• Perlunya Membangun dan Meningkatkan Kinerja Guru

    0

    seminar-uad-1Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Mewujudkan generasi Indonesia 2045 dengan membangun human capital secara sungguh-sungguh. Human capital merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan pendidikan, pengalaman dan ketrampilan.

    Hal itu dikatakan Prof Dr Farida Hanum, MSi (Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta) di depan peserta seminar nasional pendidikan “Mengatasi Degradasi Pendidikan untuk Mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045” di Kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jl Kapas 9 Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta, hari ini, yang juga menghadirkan pembicara Prof Dr Ir Imam Robandi (Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember).

    Mengutip Fitz-End, Farida Hanum menguraikan human capital yang merupakan kombinasi dan karakter (sifat), kemampuan dan motivasi. Strategi membangun human capital Indonesia, adanya political will yang kuat dari pemerintah untuk membangun sumber daya manusia Indonesia berdasarkan usaha yang berkelanjutan.

    Menurut Farida Hanum, lembaga pendidikan mulai dari PAUD sampai perguruan tinggi menyusun kurikulum berdimensi human capital, yang di dalamnya berisi nilai-nilai kompetitif, kreatif dan inovatif. Dikatakan Farida, Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK) secara intensif dapat memantau kualitas guru, termasuk standar empat kompetensi guru: profesional, pedagogik, sosial dan kepribadian.

    Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Imam Robandi, M. Eng, sosok yang sangat inspiratif mengatakan, saat ini guru-guru menghadapi era anak yang lahir di zaman digital. “Anak yang lahir di zaman ini, sangat beda dengan kondisi guru-guru saat ini,” kata Imam.

    Menurutnya, perlu membangun dan meningkatkan kinerja guru dengan membangun mental percaya diri agar guru tidak menjadi patung di kelas, tidak menginspirasi.  “Juga mengubah persepsi dan sikap terhadap profesi guru yang terhormat, bermartabat dan dihargai,” kata Imam Robandi menambahkan saat ini perlu mempersiapkan guru-guru yang keadaptasiannya tinggi dan update tentang ilmu.

    Tidak sedikit di antara peserta yang terkaget-kaget dengan gaya bicara Imam Robandi yang ceplas-ceplos. Ia betul-betul memiliki magnet charging yang sangat kuat (super magnet) melalui sentuhan motivasinya. Kehadirannya mampu membuka cakrawala berpikir peserta seminar melalui gagasan kreatif dengan gaya penyampaian yang penuh energi.

    Menurut Imam, guru harus punya komitmen kuat untuk memiliki kemandirian dan bukan bergantung pada orang lain. “Guru harus capability, memiliki kemampuan terbarukan, yang memang dibutuhkan pada masa mendatang. Selain itu, guru harus memiliki nilai tambah seperti bahasa asing, ICT dan lain-lain,” papar Imam lagi.

    Dikatakan Imam, sebelum memulai saja orang sudah menghitung kerugian dan dampak negatif, kapan mau sukses? “Karena dari kegagalan seseorang terus belajar. Tidak ada keberhasilan dan kemajuan tanpa kerepotan. Kalau tidak berusaha, tidak akan ada kemajuan yang dicapai,” kata Imam.

    Seminar ini, seperti disampaikan Humas, Dholina Inang Pambudi, menciptakan komunitas pembelajar yang profesional,  peningkatan pendidikan melalui program peningkatan kompetensi bagi pendidik baru,  mengatasi degradasi pendidikan dengan memfasilitasi siswa belajar sebagai generasi pembelajar abad 21. “Selain itu,  kelas inspirasi dan pendidik superkreatif, mengintegrasikan teknologi komunikasi dan informasi dalam pembelajaran,” terang Dholina.

    Tak kalah menariknya, kegiatan yang diadakan BEM FKIP UAD Yogyakarta, merancang pembelajaran berbasis pendidikan karakter dan budaya lokal serta pengelolaan perubahan di lembaga pendidikan sebagai upaya mengatasi degradasi pendidikan. (affan)

     

  • iklan 3




  • Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com