• Kelompok Cipayung : Elit Negara Pelopor Kerukunan Beragama

    0

         Bengkulu, jurnalsumatra.com – Para aktivis mahasiswa yang bergabung dalam Kelompok Cipayung Plus menyerukan para elit negara agar menjadi pelopor dalam menjaga kerukunan antarumat beragama serta memperkokoh persatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.
    “Para elit harus menjadi contoh dan pelopor untuk menjaga kerukunan umat beragama, jangan justru mencari panggung untuk kepentingan politik,” kata Irwin Simatupang, koordinator aksi unjuk rasa yang diikuti seratusan mahasiswa di depan Gedung Sekretariat DPRD Provinsi Bengkulu, Kamis.
    Kelompok Cipayung Plus terdiri dari para aktivis mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Perkumpulan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) beserta Badan Eksekutif Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan Badan Eksekutif Institus Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu.

         Irwin mengatakan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok harus diproses sesuai hukum tanpa menciderai kerukunan umat beragama.
    “Kerukunan umat beragama jangan sampai terpecah karena bangsa ini sendiri yang akan rugi bila kita larut dalam konflik,” ucapnya.
    Selain meminta para elit sebagai pelopor dalam menjaga kerukunan beragama, aksi mahasiswa dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2016 itu menyerukan beberapa tuntutan antara lain menyoroti kasus persidangan petani yang dituduh mencuri oleh perusahaan perkebunan sawit swasta.
    Para mahasiswa juga menuntut Kapolda Bengkulu menindak Kasat Sabhara Polres Kota Bengkulu yang dinilai melanggar kode etik kepolisian terkait penanganan aksi massa.
    Mereka juga menyerukan penanganan terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta menghentikan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.
    Tuntutan lainnya dari para aktivis mahasiswa itu yakni meminta Gubernur Bengkulu, Ridwan Mukti menghentikan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Pulau Baai karena mengancam kelestarian lingkungan serta meminggirkan para nelayan kecil.
    “Kita masih menghadapi penjajahan dalam bentuk wajah-wajah baru berupa kemiskinan, penindasan dan kebodohan serta degradasi moral,” kata Irwin.(anjas)

  • iklan 3




  • Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com