• iklan 3


  • Kedalaman Air Sungai Batanghari Di Bawah Normal

    0

    Jambi, jurnalsumatra.com – Kedalaman air sungai Batanghari di Provinsi Jambi sudah di bawah normal karena sungai tersebut tidak lagi menampung air hujan akibat musim kemarau panjang yang melanda daerah itu.
    Petugas pengukur ketinggian permukaan air di Taman Rajo Kota Jambi, Syahruddin, ketika dihubungi Antara mengatakan, kedalaman normal air sungai Batanghari yakni 9 meter. Namun selama musim kemarau hingga Jumat, kedalaman air hanya 6,80 meter.
    “Debit air sungai Batanghari saat ini menurun drastis. Bahkan jauh di bawah standar normal debit air biasanya. Ketinggian air hanya 6,80 meter padahal normalnya 9 meter,” kata Syahruddin.
    Bahkan sehari sebelumnya, kata Syahruddin, tinggi air adalah 6,70 meter. Artinya ada peningkatan sebanyak 0.10 meter dalam satu hari. Namun dibandingkan dengan musim kemarau tahun sebelumnya, di tahun 2015 ini kedalaman sungai masuk kategori yang terendah.
    “Sebab pada tahun lalu, debit air terendah pada musim kemarau adalah 7 meter. Tapi sekarang hanya 6,80 meter. Kalau normal kedalamannya itu ya 9 meter,” katanya menjelaskan.
    Syahruddin mengatakan, tinggi air sungai Batanghari mulai surut secara terus menerus dalam waktu satu bulan belakangan ini. Dan dia tidak bisa memperkirakan kapan air bisa naik lagi karena kondisinya setiap hari berubah-ubah.
    Sementara kabut asap yang semakin pekat membuat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di sekitar Bandara Sulthan Thaha Jambi kembali meningkat dan kategori berbahaya.
    Pada Rabu (9/9) kemarin ISPU di Kota Jambi berada diangka 324 kategori dalam kategori berbahaya. Kamis (10/9) kemarin, pukul 15.00, alat ISPU di Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Jambi juga menunjukkan peningkatan angka  ISPU yakni 336 ppm.
    Kepala BLHD Provinsi Jambi Rosmeli mengatakan, setiap pukul 15.00, alat ISPU akan mengeluarkan hasil sejauh mana pencemaran udara. Dan kemarin, merupakan yang tertinggi sepanjang tahun ini.
    “Memang kemarin itu yang terparah ISPU nya, kategorinya berbahaya. Anak sekolah juga sudah dilibur kan kemarin,” kata Rosmeli.
    Sementara pantauan di Bandara Sulthan Thaha Syaifudin (STS) Jambi, Jumat, Aktivitas penerbangan komersial masih saja lumpuh karena jarak pandang di Bandara Jambi hanya 500-600 meter.
    Jambi sendiri mendapat bantuan alat pemecah kabut asap yang disebut Ground Mist Generator (GMG) dan akan dipasang di Bandara Sulthan Thaha Jambi.
    Pj Gubernur Jambi, Irman mengatakan, sejak Kamis, alat tersebut sudah ada di Bandara dan dipasang langsung. Sehingga nantinya di bandara kabut asapnya bisa diminimalisir,” katanya.
    Sementara itu, Kapenrem Mayor Inf Imam Syafii dari Satgas Pemadaman Kebakalan Hutan dan Lahan (Karhutla) Jambi mengatakan bahwa Kamis kemarin, alat tersebut sudah dipasang di landasan pacu bandara.
    Dia menjelaskan, alat GMG tersebut berbentuk menara yang akan memancarkan partikel-partikel khusus ke udara. Partikel-partikel tersebut akan memadatkan kabut asap sehingga kabut asap yang ada di udara akan turun dan mengendap.
    Menurutnya dibutuhkan waktu yang tak lama untuk memasang alat GMG ini, dan Jumat alat tersebut sudah bisa berfungsi.
    “Alat ini akan bekerja untuk radius satu Kilometer,” katanya menambahkan.(anjas)

  • iklan 3




  • Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com