• Film Pendek Hana Masih Tunggu “Screening”

    0

         Ambon, jurnalsumatra.com – Hana, film pendek tentang pencarian bekas tetangga usai konflik horisontal 1999 terjadi di Kota Ambon, besutan sineas muda Rifky Husein dari Baileo Doc., masih menunggu proses “screening” untuk penayangan perdana.
    “Sekarang sedang persiapan untuk screening, sepertinya tidak akan tayang di tivi, kami sementara mencari celah untuk bisa ditayangkan di Ambon, tapi kesulitannya adalah hari ini film-film pendek susah masuk bioskop,” kata sutradara Rifky Husein di Ambon, Selasa.
    Ia mengatakan Hana adalah film pendek yang mengangkat kisah tentang hubungan antar tetangga ketika konflik 1999 terjadi di Ambon, berbalut drama yang tergambar dari dialog antara dua pemeran utama mengenai rumah yang dititipkan untuk dijaga.
    Ditulis oleh penulis naskah film “Surat dari Praha”, Irfan Ramli, film yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut penuh dengan “keterangan maksud” yang tidak langsung.
    “Target filmnya bukan di Indonesia karena dramanya penuh dengan petunjuk dan simbol, harus ditonton beberapa kali baru bisa dipahami dengan baik, beberapa orang yang ikut screening setelah nonton dua kali baru bisa menangkap apa yang dimaksudkan oleh film itu,” katanya.
    Berlatar 17 tahun pasca konflik 1999, film berdurasi 11 menit, 22 detik itu, mengisahkan seorang wanita berusia 27 tahun, bernama Hana yang mencari Dominggus, bekas tetangganya di kawasan Karang Panjang untuk menyerahkan kunci rumah yang dititipkan kepada ibunya.

         Saat akan meninggal dunia, ibunya Hana mewasiatkan kunci rumah tersebut agar dikembalikan lagi kepada pemiliknya, tapi 17 tahun telah berlalu sejak keluarga Dominggus mengungsi dan menitipkan rumah mereka untuk dijaga.
    Berbekal informasi seadanya, Hana terus berupaya mencari tempat tinggal sang pemilik kunci rumah, dan ia kemudian bertemu Oma Atje, istri dari Dominggus yang juga tidak tahu-menahu mengenai rumah yang dimaksudkan oleh Hana.
    Hana pun sempat kebingungan dan mengira ia salah orang, tapi dalam dialog singkat, Oma Atje kemudian menyadari kalau suaminya memiliki rumah yang lain.
    “Kami tidak menyebutkan secara spesifik kalau pak Dominggus punya istri lain. Pada “black out” di awal film, ada adegan seorang anak kecil berkata ‘mama mengapa bapak jarang pulang ketika hari Sabtu?’ itu menjadi semacam petunjuk,” kata Rifky.
    Diperankan oleh artis-artis lokal, Rifky mengatakan ia sempat beberapa kali gagal melakukan pengambilan gambar karena sulitnya mencari karakter wanita yang cukup kuat untuk memerankan Hana, hingga akhirnya tidak sengaja bertemu Fitria Sima Sima dari Sangar Teater Bengkel Seni Embun, tiga hari sebelum proses syuting dimulai.
    “Agak kesulitan karena rata-rata orang-orang teater di Ambon saat ini adalah mahasiswa, tidak cocok dengan peran Hana, wanita 27 tahun yang minimal memiliki memori mengenai konflik selama 10 tahun agar lebih natural dalam berperan,” katanya.
    Baileo Doc. adalah komunitas pekerja film di Kota Ambon. Terbentuk sejak 2012, komunitas ini telah membuat beberapa film dokumenter, salah satunya “Abdau” yang bercerita tentang tradisi perayaan Idul Adha di Desa Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah.
    Sebagai seorang sutradara, Rifky Husein mulai dikenal publik nasional setelah film dokumenter “Provokator Damai” garapannya untuk Eagle Awards pada 2013, sukses besar dan diputar di Festival Film Qatar.(anjas)

  • iklan 3




  • Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com