• iklan 3


  • Chaerul: Indonesia-Tiongkok Harus Semakin Saling Melengkapi

    0

    Beijing, jurnalsumatra.com – Mantan menteri koordinator bidang perekonomian Chaerul Tanjung mengatakan Indonesia dan Tiongkok harus semakin saling melengkapi dan menjalin hubungan  serta kerja sama yang baik di masa mendatang.
    “Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi sumber daya yang dapat memenuhi kebutuhan masing-masing pihak,” kata Chaerul Tanjung, dalam obrolan dengan Antara di Beijing, Jumat malam.
    Chaerul Tanjung yang akrab disapa CT mengemukakan, secara umum hubungan serta kerja sama Indonesia dan Tiongkok, semakin luas cakupannya.
    “Namun, dari sisi perdagangan saja, kita masih defisit. Padahal, kerja sama itu kan harus saling menguntungkan,” tuturnya.
    Semisal, selama ini Tiongkok selalu mengimpor bahan mentah dari Indonesia, kemudian diproses dan dijual kembali ke negara lain, termasuk Indonesia dengan produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
    “Ini jelas merugikan Indonesia”” ungkap CT.
    “Kerja sama akan saling menguntungkan, jika proses pengolahannya dilakukan di Indonesia, sehingga Indonesia dapat nilai tambah, hasilnya dapat diekspor ke Tiongkok, bahkan diolah lagi untuk `re-finish’ dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sehingga Indonesia-Tiongkok sama-sama dapat manfaat,” tuturnya menegaskan.
    Dengan demikian, lanjut CT, kedepan tidak ada lagi bahan mentah yang diimpor Tiongkok dari Indonesia.
    “Harapan saya, tidak ada ada lagi ekspor bahan mentah yang bernilai tambah kecil. Karena bagaimanapn ekspor barang bernilai tambah tinggi akan memberikan kesejahteraan rakyat, karena lapangan kerja juga akan terbuka luas,” tuturnya.

    Lihat Indonesia
    CT menuturkan Tiongkok kini mulai melihat Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang menjanjikan. Namun,  Tiongkok belum menjadi negara utama yang menanamkan modalnya di Indonesia. Padahal, Tiongkok memiliki cadangan devisa besar, kekuatan ekonomi terbesar kedua di  dunia..
    “Seharusnya, Tiongkok menjadi nomor dua atau bahkan nomor satu dalam lima tahun kedepan, sebagai negara yang paling besar menanamkan modalnya di Indonesia, mengingat Tiongkok dalam kurun waktu tersebut akan menjadi kekuatan ekonomi dunia terbesar,” ungkapnya.
    CT menuturkan masih banyak tantangan yang dihadapi dalam hubungan antara Indonesia-Tiongkok, maka diperlukan strategi cerdas  agar hubungan serta kerja sama yang dijalin dengan Tiongkok, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.
    Dalam paparannya bertajuk “The New era of Asia in Changing World: The Future of China-Indonesia) Relationship, CT mengungkapkan
    jumlah foreign direct invesment (FDI)  Indonesia tercatat 15 miliar dolar AS, sedangkan FDI Tiongkok tercatat 250 miliar dolar AS.
    Di Indonesia konsumsi menjadi penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) yakni sekitar 56 persen, sedangkan di Tiongkok, investasi menjadi penyumbang terbesar PDB yaitu sekitar 47 persen.
    “Sebagai dua negara besar di masing-masing kawasan, Indonesia dan Tiongkok dapat menjadi lokomotif kebangkitan ekonomi Asia di masa datang, begitupun India. Meski saat ini secara global, ekonomi dunia sedang mengalami goncangan. Tiongkok meski mengalami pula perlambatan, tetap stabil. Dan Indonesia sangat mungkin untuk bisa tumbuh dalam kisaran enam-tujuh persen pada tahun-tahun mendatang,” katanya.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com