• iklan 3


  • Tagline “Jogja Istimewa” Kurang Tersosialisasi

    0

    frizky-yulianti-nurnisyaYogyakarta, jurnalsumatra.com – Perubahan tagline “Jogja Never Ending Asia” menjadi “Jogja Istimewa” pada 31 Agustus 2012 lalu dan mulai digalakkan pada awal tahun 2015 belum disosialisasikan dengan baik kepada seluruh masyarakat Kota Yogyakarta.

    Perubahan tagline bagi kota pelajar, kota budaya dan bahkan sebagai Never Ending-nya Asia Humas Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai komunikator dan mediator dalam proses sosialisasi antara pemerintah dan masyarakat Kota Yogyakarta sangat diperlukan. Terlebih, di era komunikasi digital, pemanfaatan media komunikasi digital Public Relations (PR) menjadi hal urgen yang dapat dilakukan dalam proses sosialisasi.

    Tagline baru Kota Yogyakarta dibutuhkan proses sosialisasi agar bisa diterima oleh seluruh elemen masyarakat Kota Yogyakarta. “Jika pemerintah dapat memanfaatkan digital PR, dalam proses sosialisasi Jogja istimewa sebagai branding baru Kota Yogyakarta akan lebih cepat, tepat, dan efektif tersosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat di Kota Yogyakarta,” jelas Frizky Yulianti Nurnisya, MSi, hari ini.

    Dalam diskusi panel di Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam acara Asian Congress for Media and Communication (ACMC) yang telah diselenggarakan sejak Kamis (27/10/2016), Frizky Yulianti Nurnisya, mengatakan, perubahan tagline atau branding Yogyakarta tersebut disebabkan semakin ketatnya persaingan pariwisata antardaerah di Indonesia.

    “Akan tetapi perubahan branding tersebut justru banyak mendapat kritikan dari berbagai elemen masyarakat,” kata Frizky yang menambahkan sebagai pusat pendidikan dan daerah yang sarat dengan seni bahkan menghasilkan seniman internasional — banyak masyarakat yang tidak hanya mengkritik logo tersebut, namun juga ikut sumbang saran untuk mengatasi persoalan logo ini.

    Hingga akhirnya terbentuklah tim sebelas dari berbagai kalangan untuk mewakili aspirasi seluruh masyarakat. Dan, peran Humas Pemerintah Kota Yogyakarta dalam sosialisasi tagline baru tersebut, Frizky menambahkan, hanya sebagai pelaksana atau implementator saja untuk memberi SMA ki an adanya branding baru kota Yogyakarta.

    Tentu sangat disayangkan karena posisi humas dalam sebuah instansi memiliki peranan penting untuk mendengar pendapat dari seluruh stakeholder. Tidak berlebihan jika kemudian humas dianggap bisa memiliki pertimbangan yang lebih matang karena bisa berada diantara kepentingan seluruh stakeholder.

    Diskusi panel yang menjadi salah satu rangkaian acara ACMC (Asian Congress for Media and Communication) bertemakan “Bagaimana Komunikasi Mengubah Struktur Kekuasaan” dihadiri 80 akademisi dari beberapa negara di Asia.

    Dijelaskan oleh Rachel E. Khan selaku ketua ACMC, bahwa ACMC merupakan organisasi bagi profesional akademik di bidang komunikasi dan media massa. Dan, konferensi internasional yang saat ini diadakan di UMY dalam rangka perayaan 10 tahun berdirinya ACMC. Sebelumnya, ACMC diadakan di negara-negara yang berbeda, yang pertama tahun 2008 di Davao, Filipina. Disusul di Penang Malaysia, Bangkok Thailand, Hongkong, dan Indonesia.

    Konferensi ACMC yang bekerjasama dengan universitas penyelenggara yang memiliki minat pada tema saat ini, merupakan wadah pertemuan dari berbagai negara ASEAN untuk saling berbagi ilmu di bidang komunikasi dan media massa. Tujuan utama dari konferensi ini agar semua peserta yang hadir dapat saling berbagi ilmu antarsatu sama lain. Itu tujuan yang paling penting. Selain itu terbentuknya networking (jaringan) dari kolega-kolega dari penjuru Asia. Ini salah satu cara untuk memperluas kolaborasi baik antar negara maupun antar universitas.  (Affan)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com