• Sumsel Inflasi Seluruh SKPD Diminta Lakukan Identifikasi

    0
    TPID Sumsel Mukti Sulaiman, saat memimpin rapat koordinasi lanjutan TPID Sumsel di ruang rapat kantor perwakilan Ketua Bank Indonesia Palembang, Senin (24/10)

    TPID Sumsel Mukti Sulaiman, saat memimpin rapat koordinasi lanjutan TPID Sumsel di ruang rapat kantor perwakilan Ketua Bank Indonesia Palembang, Senin (24/10)

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Seluruh SKPD Pemprov Sumsel diinstruksikan untuk melakukan identifikasi dan pemetaan, terhadap terjadinya peningkatan inflasi Provinsi Sumsel, agar dapat diketahui faktor apa yang menjadi penyebab inflasi tersebut.

    Instruksi tersebut dilayangkan Sekretaris Daerah (Sekda) Prov Sumsel Mukti Sulaiman, sebagai  Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel, saat memimpin rapat koordinasi lanjutan TPID Sumsel di ruang rapat  kantor perwakilan Bank Indonesia Palembang, Senin (24/10).

    Mukti mengungkapkan, dilihat dari data yang dikeluarkan TPID Sumsel pada September 2016, inflasi mencapai 4,37% atau lebih tinggi dibanding bulan Agustus.  Dari data pertiga bulan, komoditi penyumbang inflasi, cabai merah, tomat sayur, beras, mie kering instant, dan minyak goreng. Sedangkan komoditi yang deflasi yakni angkutan udara, bawang merah, gula pasir, wortel, dan telur ayam ras.

    Dari data tersebut, usaha yang perlu dilakukan salah satunya adalah dengan melakukan identifikasi dan pemetaan secara baik sehingga dapat diketahui apa penyebab terjadinya inflasi. “Dinas terkait seperti Dinas Pertanian, Badan Ketahanan Pangan juga harus memberikan stimulus kepada para petani, untuk merangsang petumbuhan produksi, seperti beras walaupun Sumsel surplus beras masing mengalami Inflasi karna banyak yang dijual ke luar,” ungkapnya, Senin (24/10).

    Mukti melanjutkan, selain mengharapkan SKPD melakukan pemetaan dengan baik, kedepan TPID Sumsel akan menjalin kerjasama dengan Kamar Dagang Indonesia (KADIN), yang di dalamnya merupakan orang-orang yang memiliki modal, dengan ini akan di kerjasamakan terkait komoditi penyumbang inflasi di Sumsel. “Saat ini Sumsel berada diperingkat 5 terendah, diantara 10 provinsi di wilayah Sumatera dan lebih tinggi dari inflasi kumulatif nasional yakni 1,97%,” ujarnya.

    Selain itu, Mukti Sulaiman juga meminta seluruh stakeholder dalam TPID untuk melakukan langkah antisipati resiko inflasi yang diperkirakan akan meningkat menjelang akhir tahun. “Langkah antisipasi sangat perlu, jika memang diperlukan lakukan operasi pasar,” sambungnya.

    Sementara, Direktur Bank Indonesia Perwakilan Palembang, Hamid Ponco Wibowo menuturkan, secara tahunan kalender inflasi Sumsel mencapai 2,42%, lebih tinggi dibanding tahun 2015 dengan inflasi 1,17%, untuk bulan september 2016 mencapai 4,37% lebih tinggi dibanding bulan Agustus 2016. “Dengan kondisi ini, kita terus berupaya agar bagaimana inflasi ini dapat kita kendalikan dengan baik, sampai saat ini komoditi Cabai masih menjadi penymbang inflasi terbesar di Sumsel,” tutupnya. (Vallimo)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com