• Revitalisasi Seni Rodat di Sleman

    0
    Revitalisasi Seni Rodat di Sleman

    Revitalisasi Seni Rodat di Sleman

    Sleman, jurnalsumatra.com – Kesenian tari tradisional sholawat Rodat di Sleman saat ini tinggal 2 group, yakni di Candran, Sidoarum, Godean dan di Krapyak, Wedomartani, Ngemplak. Dan, itu pun jarang dipentaskan pada event-event  di masyarakat.

    Melihat kondisi itu, menurut Edi Winaryono, SSn, Kabid Kesenian Sleman, pihaknya melakukan revitalisasi dengan mementaskan kembali seni tari tradisional sholawat Rodat Babussalam Candran Sidoarum Godean.

    Pentas ini didokumentasi video sehingga dapat menjadi bahan untuk bisa ditonton masyarakat luas. “Bahkan, bisa sebagai bahan pembelajaran untuk dikembangkan kembali,” kata Edi Winaryono, Jum’at (28/10/2016).

    Sementara itu, Zaelani, SPd, sesepuh Rodat, takmir Masjid Ababussalam dan mantan Wakil Bupati Sleman, mengatakan, tari tradisional sholawat Rodat Candran Sidoarum Godean merupakan suatu tari seni tradisional yang gerak tarinya hampir mirip seperti tari Saman Aceh.

    “Hanya saja tampilan pementasannya tidak terlalu cepat dan hanya ditarikan oleh kaum laki-laki,” kata Zaelani yang menambahkan, tarian itu dilakukan dengan duduk bertimpuh, yaitu kaki terlipat membujur datar ke belakang dan pantat menduduki betis hingga dekat tungkai. Gerakan tariannya kadang badan tegak sedang kaki lutut hingga betis dan tukai sebagai alas tegaknya badan.

    Gerak tariannya kadang menunduk bagai orang sujud dalam sembahyang. Kemudian bangkit, tegak, lalu meliuk miring ke kanan ke kiri sambil memainkan kipas di tangan. Kostum pakaian yang dipakai bajunya bisa bervariasi sedang untuk bawah memakai sarung serta berpeci.

    Tari tradisional sholawat Rodat Candran dimainkan oleh 30 orang dengan duduk berjajar dibuat 6 shaf yang per shaf 5 orang, dan untuk pengiring menggunakan 4 buah terbang atau rebana dan satu bedug kecil dengan 4 orang penyanyi.

    Lirik lagu kasidahnya mengambil atau membaca bagian proses ataupun syair-syair yang ada di kitab Al-Barjanzi. Isi lirik lagu kasidahnya memuji. Dan pujian-pujian itu kepada Allah maupun kepada Nabi Muhammad SAW. Isinya juga tentang riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW.

    Ditambahkan oleh Zaelani, tari tradisional sholawat Rodat Candran mulai tahun 1961 dan sampai saat ini sudah memasuki sampai lima generasi. Para penari  terdiri dari pemuda dan remaja yang mengaji belajar ilmu  agama di dusun Candran dan dari luar yakni: Bantulan, Kurahan, Gumuk, Jomboran, Nglarang, Cokrobedog, Krapyak dan Jetak Sidokarto.

    Pada zaman dahulu, kesenian ini begitu semarak diundang dalam berbagai hajatan dari nikahan, pengajian, syukuran menempati rumah, syukuran bancakan atau ulang tahun. (Affan)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com