• iklan 3


  • “Pesantren” Jihad Santri Untuk Negeri: Sebuah Refleksi Peringatan Hari Santri

    0
    Fatroyah Asr Himsyah, M.HI*61022-wa0039

    Oleh: Fatroyah Asr Himsyah, M.HI Penulis Alumni Ponpes Shiratul Fuqaha Malang dan Kini Aktif Sebagai Ketua Lembaga Kajian Perempuan dan Anak MPII Sumsel

    EKSISTENSI pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan sejak dahulu hingga sekarang diakui membawa sumbangsih tersendiri. Sekalipun pesantren adalah sebuah tempat yang dipergunakan untuk menimba ilmu agama namun realita membuktikan bahwa pesantren tidak hanya berdonasi dalam dunia keilmuan agama saja, tapi juga kebangsaan, sosial, dan ekonomi kerakyatan. Sejarah mengukir peran pesantren dalam upaya meraih cita-cita besar bangsa yakni kemerdekaan Indonesia.

    Dahulu para santri betul-betul menjadi pemenuh harapan masyarakat, antara keislaman dan semangat nasionalisme (hubbu al-wathan) menyatu bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan membentuk ideologi pesantren. Peresmian tanggal 22 Oktober sebagai hari santri Nasional tahun 2015 lalu seolah membangunkan banyak memori akan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang telah lama tertidur nyenyak dari ingatan.

    Momentum tersebut menjadi alarm terhadap perjuangan heroik para santri khususnya para kiayi Nahdlatul Ulama (NU) dalam bentuk resolusi jihad. Resolusi jihad yang lahir dari kaum santri dilatar belakangi oleh pertempuran melawan kaum kolonial Belanda di Surabaya yang berkisar antara tanggal 22 Oktober-10 November 1945. Dengan bersenjatakan bambu runcing dan berbagai alat perang yang terbilang jauh dari kata canggih, Hadlratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari mengultimatum seluruh umat Islam pada jarak radius 82 KM untuk mengangkat senjata dan bermobilisasi ke Surabaya bergabung dengan tentara nasional dibawah komando Bung Tomo (Sutomo) untuk mempertahankan kembali keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanggal 10 November itulah yang kemudian kini diperingati sebagai hari Pahlawan.

    Kutipan sejarah tersebut setidaknya menunjukkan bahwa doktrin agama menjadi sarana efektif untuk internalisasi ideologi kebangsaan. Mengutip pendapat Jamal Makmur dalam bukunya Peran Pesantren dalam Kemerdekaan dan Menjaga NKRI, bahwa Nasionalisme religius menjadi kekuatan bangsa yang mampu menopang keutuhan NKRI dari rongrongan penjajah dan semua kelompok yang ingin memecah belah NKRI.

    Hal tersebut juga menjadi refleksi untuk menghadapi tantangan era globalisasi yang menjadi ciri dari kemoderenan kehidupan saat ini. Sudah menjadi hukum kemajuan zaman bahwa semakin maju suatu masyarakat maka problematika yang muncul pun semakin kompleks. Menghadapi tantangan tersebut, bahwa nasionalisme religius kaum santri harus direvitalisir melalui tiga langkah.

    Pertama, mengintrodusir pemikiran para santri dan kiai yang berkaitan dengan paham kebangsaan berbasis religius. Kedua, melacak jejak perjuangan para santri dan kiai dalam membela dan mempertahankan NKRI. Ketiga, memantapkan nilai-nilai wawasan kebangsaan (al wa’yu al-wathani), wawasan keislaman (al-wa’yu al-islami), wawasan global (al-wa’yu al-duali), wawasan ekonomi (al-wa’yu al-iqtishadi), wawasan politik (alwa’yu al-siyasi), wawasan kebudayaan (al-wa’yu al-hadlari), dan wawasan pemikiran kontemporer (al-wa’yu al-tafkiri al-mu’ashir). (Baca: Jamal Ma’mur: 2016)

    Wawasan-wawasan tersebut dapat mengkonstruk pemikiran para santri menjadi inklusif, moderat, dan kosmopolit sehingga mampu melihat dunia secara komprehensif. Sehingga lahirlah spirit pluralitas dan heterogenitas yang saat ini menjadi kebutuhan primer untuk menjaga ke-Bhineka Tunggal Ika-an dan keutuhan NKRI.

    Hari ini, seantero tanah air memperingati hari santri. Berbagai kegiatan, perlombaan dan bahkan parade dilakukan untuk memperingatinya. Hanya saja, sejumlah peringatan tersebut, jangan sampai membuat kaum sarungan di kalangan pesantren menjadi lengah, menjadikan hari ini sebagai rutinitas seremonial semata, ataupun sekedar refleksi sejarah dan menguap seiring berlalunya hari. Namun hari santri sudah seharusnya menjadi momentum kebangkitan para santri dalam menatap masa depan dengan mengembangkan kualitas di berbagai sektor. Santri bukan lagi hanya berada di balik dinding-dinding pesantren, melainkan santri harus mampu tampil aktif di era global yang hiperkompetitif. Dengan kualitas itulah para santri mampu meneruskan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hazbullah, KH Wahid Hasyim KH. Sahal Mahfudz dan para alim ulama lainnya yang berjiwa nasionalis tinggi berlandaskan pada nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. SELAMAT HARI SANTRI, DARI SANTRI UNTUK NEGERI. Wallahu ‘alam.

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com