• iklan 3


  • Pakar Komunikasi Minta KPI Pantau Pemberitaan Media

    0

        Kupang, jurnalsumatra.com – Pakar Komunikasi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Prof. Dr Alo Liliweri meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memantau berbagai pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik jelang Pilkada 2017 serentak.
    “Saat ini siapapun calon pemimpin daerah yang mempunyai banyak uang, maka sudah pasti ia akan membeli media tersebut untuk memberitakan hal-hal yang berkaitan dengan programnya,” katanya saat ditemui di Kupang, Rabu.
    Hal ini disampaikannya berkaitan dengan adanya pernyataan dari Dewan Pers yang menyatakan bahwa independensi pers saat ini terancam oleh intervensi pemilik modal. Hal ini kemudian berakibat pada kepentingan publik di korbankan dibandingkan kepentingan pemilik modal.
    Kasus yang seperti itu menurut pria yang biasa di sapa dengan Alo tersebut mengaku bukan baru pertama kali terjadi di Indonesia. Tetapi sudah ada sejak awal kemerdekaan Indonesia yang pada saat ini media cetak sangat mendominasi.
    “Berbagai kasus saat pemilihan Presiden kita, beberapa media justru saling serang, yang berakibat pada banyaknya masyarakat kita yang bingung dengan hasil perhitungan,” tuturnya.

          Oleh karena itu, saat-saat seperti itulah media harus bisa menunjukan independensinya untuk berani menolak jika tidak, masyarakat akan menjadi korban.
    Ia sendiri tidak mempersalahkan pemilik modal menggandeng media dalam rangka mengkampanyekan program-programnya, sebab itu tidak bertentangan dengan UU. Namun yang diperhatikan adalah bagaimana media yang ditunjuk mengemas program-program tersebut agar tidak berdampak pada menjatuhkan pihak lain.
    KPI sendiri menurutnya harus lebih tegas dalam memantau setiap pemberitaan yang ada di Media Cetak dan elektronik.
    Ketua Dewan Pers Prof Bagir Manan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, awal tahun 2016 juga mengatakan, Independensi pers sebagai salah satu pilar demokrasi yang menjadi harapan rakyat untuk mengungkap kebenaran kini terancam karena kepentingan ekonomi pemilik media yang lebih menonjol.
    “Kepentingan pemilik media di luar nilai-nilai luhur profesi kewartawanan juga ikut menggerus independensi kehidupan pers,” ujarnya.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com