• iklan 3


  • Kadistan Lebak: Penanganan Kekeringan Harus Terintegrasi

    0

    Lebak, jurnalsumatra.com – Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan penanganan kekeringan secara permanen ke depan harus terintegrasi dengan instansi terkait guna mendukung program swasembada pangan.
    “Kami berharap penanganan kekeringan ini harus terintegrasi untuk mengantisipasi gagal panen,” kata Dede di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis.
    Saat ini, penanggulangan kekeringan akibat kemarau dinilai belum maksimal, sehingga perlu dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.
    Penanganan secara komprehensif tersebut tentu harus terintegrasi dengan instansi terkait agar tidak menimbulkan kerugian terhadap petani.
    Misalnya, ujarnya, jaringan irigasi tentu melibatkan Dinas Sumber Daya Air (SDA), penghijauan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dushutbun) serta pembangunan normalisasi sungai Dinas Bina Marga (DBM).
    Begitu juga penerapan teknologi dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Banten serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan tenaga penyuluh lapangan.
    “Kami optimistis jika penanganan kekeringan itu melibatkan instansi terkait dipastikan tidak terjadi gagal panen,” ujarnya menjelaskan.
    Dede menyebutkan, saat ini, gagal panen di Kabupaten Lebak seluas 201 hektare dan kerugian material diperkirakan sekitar Rp1,6 miliar dengan asumsi biaya produksi Rp8 juta/hektare.
    Tanaman padi yang puso karena lahan persawahan tidak memiliki sumber air permukaan, sehingga sulit dilakukan gerakan pompanisasi.
    Karena itu, pihaknya berharap lahan persawahan yang mengalami kekeringan tersebut dapat dilakukan secara terintegrasi dengan instansi terkait.
    “Saya kira ke depan penanggulangan kekeringan bisa dilakukan dengan optimal sehingga mendorong produksi pangan,” katanya.
    Menurut dia, selama ini kekeringan belum mengancam kerawanan pangan karena musim panen hingga September mencapai 32.000 hektare dari tanam Mei-Juni 2015.
    Sedangkan, tanaman padi yang gagal panen relatif kecil yakni 201 hektare atau di bawah satu persen.
    “Semua lahan yang puso masuk kategori sawah tadah hujan atau lahan marjinal tanpa memiliki air permukaan sungai maupun jaringan irigasi,” katanya.
    Sementara itu, sejumlah petani di Desa Pasar Keong, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, mengaku mereka berharap pemerintah daerah membangun jaringan irigasi dengan memanfaatkan air Sungai Cisangu.
    Pembangunan normalisasi Sungai Cisangu perlu dilakukan untuk mengaliri persawahan di wilayahnya.
    “Kami sangat setuju jika penanganan kekeringan seperti belakangan ini ke depan dilakukan secara permanen dan komprehensif untuk komitmen mendukung program kedaulatan pangan,” kata Syarip, Ketua Gapoktan Desa Pasar Keong.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com