• iklan 3


  • Isu Media Sosial di Asia Tenggara

    0

    rachel-e-khanYogyakarta, jurnalsumatra.com – Dalam Conference for Media and Communication yang diadakan 27-29 Oktober 2016 di Yogyakarta, ACMC (Asian Congress for Media and Communication) meluncurkan buku “Social Media as a tool for freedom of expression: Southeast Asia”.

    Menurut Rachel E. Khan, selaku co-editor, buku tersebut terinspirasi dari perilaku pengguna sosial media di kawasan Asia Tenggara. Penggunaan sosial media yang secara luas juga disebut Rachel, kerap kali dapat menguatkan isu-isu politik tertentu. Contohnya pada tahun 2011 muncul isu support Arab Spring atau seperti Wall Street Movement.

    Perkembangan sosial media di Asia Tenggara, dinilai Rachel, sangatlah pesat. Bahkan, ia menyebutkan pengguna sosial media di kawasan Jakarta sama dengan jumlah pengguna sosial media di Paris dan New York. Namun, beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, memiliki batasan-batasan atas penggunaan sosial media.

    “Sehingga kebebasan pengguna sosial media menjadi terbatas. Beberapa negara di Asia Tenggara sendiri sosial medianya masih diatur oleh pemerintah,” jelas Rachel lagi.

    Meskipun demikian, Rachel juga menyebutkan, dengan sosial media, masyarakat menjadi dapat melakukan aksi yang bisa mengubah kebijakan atau membuat sebuah kebijakan baru. “Praktik ini biasanya dilakukan menggunakan hashtag activism. Contohnya seperti saat militer Thailand melarang masyarakatnya menggunakan media sosial secara luas, para netizen di Thailand memprotesnya dengan membuat hashtag di Twitter. Selain itu juga Malaysia saat hendak pemilihan umum membuat hashtag di twitter #bersih,” terang Rachel.

    Aksi yang digalakkan masyarakat di sosial media, dijelaskan Rachel, sangat beragam bentuknya. Selain postingan dan juga hashtag, dukungan ataupun protest juga dibuat dalam bentuk meme. “Banyak meme yang muncul ketika pemilihan umum. Bahkan komik meme Jokowi yang tersebar di sosial media membantu Jokowi dalam kampanye. Meme juga ada di negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara yang menyuarakan protest atau dibuat saat kampanye sebelum pemilihan pemimpin,” tutur Rachel.

    Oleh karena peran sosial media sangat luas, ACMC menerbitkan 9 judul buku atas analisa para penulis tentang penggunaan sosial media di kawasan Asia Tenggara. Buku tersebut ditulis oleh 12 penulis yang berasal dari Filipina, New Zealand, Malaysia dan Sri Langka. (Affan)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com