• iklan 3


  • Hidrolog: Kawasan Pesisir Semarang Kritis Akibat Reklamasi

    0

         Semarang, jurnalsumatra.com – Hidrolog Universitas Diponegoro Semarang Dr. Nelwan menegaskan kawasan pesisir Semarang sekarang ini kritis akibat maraknya pengurukan tambak dan reklamasi pantai.
    “Saat ini, laut sudah masuk ke wilayah daratan. Coba lihat daerah pesisir Semarang dari (muara, red.) Sungai Banjir Kanal Timur menuju Sayung, Kecamatan Demak,” katanya di Semarang, Kamis.
    Hal tersebut diungkapkannya usai beraudiensi pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang mengenai persoalan rob dan banjir yang masih saja terjadi di Kota Atlas itu.
    Ia menjelaskan jalan di kawasan pesisir itu kini sudah sangat berdekatan dengan laut karena kian parahnya abrasi, padahal dulunya merupakan areal tambak dan juga rumah-rumah warga.
    Nelwan mengatakan berbagai proyek pembangunan dengan pengurukan tanah bukan solusi, termasuk langkah penutupan muara sungai, sebab jika tidak dikaji mendalam bisa berdampak lebih parah.
    “Seperti penutupan muara Sungai Banger yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang. Tujuannya memang baik untuk penanggulangan banjir dan rob, tetapi harus dikaji secara matang,” katanya.

         Jangan sampai, kata dia, asal menutup sungai yang malah mengakibatkan sirkulasi air menjadi mampet sehingga diperlukan penggunaan pintu automatis atau bendung karet untuk muara sungai.
    Menurut dia, penutupan sungai seharusnya dilakukan secara buka-tutup menggunakan sistem automatis, misalnya ketika air laut pasang bisa menutup sehingga tidak masuk ke darat menyebabkan rob.
    Akan tetapi, kata dia, ketika curah hujan tinggi bisa terbuka sehingga aliran sungai bisa lancar ke laut sesuai dengan prinsip gravitasi, atau bisa juga menggunakan sistem pemompaan.
    Lebih jauh, ia menerangkan pemerintah pusat mengintruksikan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana untuk meninggikan tanggul di sepanjang Sungai Banjir Kanal Timur, Tenggang, dan Sringin.
    “Peninggiannya dengan parapet beton supaya air tidak meluap. Namun, ini justru mengakibatkan perumahan dan kawasan sekitarnya tidak bisa membuang air sesuai dengan prinsip gravitasi,” katanya.
    Sebagai solusinya, kata Nelwan, BBWS nantinya harus pula membuat sistem pompa agar air dari kawasan permukiman dan sekitar tanggul itu bisa dibuang ke aliran sungai-sungai tersebut.
    Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi mengingatkan Pemkot Semarang untuk melakukan kajian secara mendalam sebelum melakukan penutupan muara sungai, termasuk dampak-dampak negatifnya.
    “Ya, memang nanti harus menggunakan sistem buka-tutup. Namun, kami minta pemkot mengkaji terlebih dulu apakah sungai-sungai itu layak ditutup atau tidak,” kata politikus PDI Perjuangan itu.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com