• Indonesia Tuan Rumah Peluncuran Pemantauan Pendidikan Global

    0

        Jakarta, jurnalsumatra.com – Indonesia menjadi salah satu dari empat kota di dunia yang menjadi tuan rumah peluncuran Laporan Pemantauan Pendidikan Global atau “Global Education Monitoring” (GEM) UNESCO 2016.
    “Indonesia menjadi negara pertama di dunia tempat diluncurkannya laporan pemantauan pendidikan global,” ujar Staf Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  Ananto K Seta,  usai peluncuran GEM di Jakarta,  Selasa.
    Selain di Jakarta,  peluncuran juga dilakukan  di tiga kota di dunia yakni London (Inggris, Kigali (Rwanda), dan Medellin (Kolumbia).
    Ananto mengatakan Indonesia dipilih karena merupakan wakil dari Asia dan merupakan negara yang memiliki komitmen kuat dalam pendidikan karena tertera undang-undang mengenai proses penganggaran untuk bidang pendidikan.
    Dalam Sustainable Development Goals atau SDG’s yang dimulai pada 2015, menempatkan pendidikan sebagai induk dari persoalan yang ada di planet ini.

         Laporan GEM yang bertemakan “Pendidikan bagi Manusia dan Bumi :Menciptakan Masa Depan Berkelanjutan untuk Semua” itu menyoroti pentingnya peningkatan layanan pendidikan.
    Tren yang terjadi saat ini,  pendidikan dasar universal dunia hanya dicapai pada 2042, sementara pendidikan menengah dasar (SMP) dicapai pada 2059 dan pendidikan menengah atas (SMA) pada 2084, artinya dunia terlambat setengah abad dari tenggat waktu pencapaian SDG’s 2030.
    Laporan itu menunjukkan pendidikan perlu menekankan perhatian lebih akan masalah lingkungan.  Setengah negara di dunia tidak memiliki kurikulum yang secara eksplisit membahas perubahan iklim.  Di negara-negara anggota OECD,  hampir 40 persen siswa berusia 15 tahun memiliki pengetahuan terbatas akan isu lingkungan.
    Asisten Direktur Jenderal untuk Pendidikan UNESCO,  Qian Tang,  mengatakan laporan itu harus menjadi alarm pengingat dan perlu upaya lebih agar bisa lepas dari tren sebelumnya.
    “Pendidikan harus melindungi kebudayaan minoritas dan bahasa terkait,” kata Tang.
    Berdasarkan laporan GEM,  terdapat dua cara memprioritaskan pengeluaran untuk pendidikan adalah menghapus subsidi BBM dan mengalokasikan dana pendidikan.
    Untuk Indonesia terjadi peningkatan APK PAUD dari 28 persen pada 2001 menjadi 70,06 persen pada 2015. APK pendidikan dasar di Indonesia sejak 2000 tetap di atas 100 persen,  sementara angka putus sekolah dasar menurut  dari 2,62 persen  pada 2000 menjadi 0,26 persen pada 2015. Angka literati remaja usia 15 hingga 24 meningkat dari 98,7 persen pada 2005 menjadi 99,7 persen pada 2015.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com