• iklan 3


  • BPBD Sulteng Gencar Sosialisasi Pencegahan Bencana

    0

        Palu, jurnalsumatra.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipsi terjadinya kebakaran hutan dan bencana alam di daerah tersebut.
    “Kami gencar melalukan sosialisasi kepada masyarakat, terutama di daerah yang rawan terjadi bencana alam mupun kebakaran hutan dan lahan,” kata Kepala BPBD Provinsi Sulteng, Bartholomeus Tandigala di Palu, Selasa.
    Ia mengatakan dalam setiap sosialisasi, BPBD baik provinsi maupun kabupaten dan kota terus memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai dampak yang ditimbulkan dari bencana alam banjir dan tanah longsor.
    Dampaknya bukan hanya merugikan pemerintah, tetapi juga terutama masyarakat disekitar lokasi bencana.
    Dalam mengantisipasi terjadinya musibah kebakaran lahan dan hutan seperti yang terjadi pada 2015 di sejumlah daerah di Sulteng, BPBD terus giat memberikan pemahaman dan juga menjelaskan tindakan hukum yang dapat dikenakan bagi mereka yang terbukti sengaja maupun tidak menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
    “Kami terus mengingatkan masyarakat untuk tidak lagi membuka lahan dengan membiasakan tebang bakar,” kata dia.
    Dari beberapa kasus kebakaran yang terjadi, api yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan disebabkan masih ada masyarakat yang membakar lahan untuk kebun.
    Kebiasaan membakar lahan kebun tersebut harus dihentikan karena api bisa meluas sampai ke kebun masyarakat lain dan juga hutan disekitarnya.

        Maka dalan setiap pertemuan dengan masyarakat, BPBD ditiap kabupaten dan kota di seluruh wilayah Sulteng senantiasa mengimbau masyarakat untuk tidak lagi membakar lahan.
    Begitu pula dalam mengantisipasi bencana alam banjir dan longsor, masyarakat juga terus diberikan pencerahan dan pemahaman.
    “Kami terus mengimbau masyarakat, terutama untuk tidak menebang pohon guna kepentingan apapun, termasuk membuka lahan kebun di pinggiran daerah aliran sungai (DAS),” katanya.
    Sebaliknya, masyarakat menanam pohon-pohon pelindung di sisi kiri dan kanan  DAS guna mencegah banjir dan tanah longsor.
    Menurut dia, jika hutan di sepajang DAS yang ada di Sulteng sudah gundul karena perambahan dan penebangan pohon untuk kepentingan areal kebun dan bahan baku bangunan, maka bencana banjir dan longsor bisa terjadi.
    Dia mengatakan, bencana alam terjadi bukan semata-mata karena faktor cuaca (curah hujan tinggi), tetapi juga ulah manusia yang merambah dan menebang pohon di wilayah-wilayah DAS.
    Di Sulteng terdapat banyak DAS, sebagian besar fungsi hutan disekitarnya sudah menurun karena dibabat untuk lahan kebun dan kayunya diambil sebagai bahan baku bangunan.
    “Kami berusaha kembali mengajak masyarakat mulai membiasakan menanam pohon baik di sepanjang DAS maupun lokasi-lokasi yang sudah gundul dan rawan longsor,” kata dia.
    BPBD Sulteng juga terus mendorong terbentuknya tim partisipatif siaga bencana di setiap desa dan kelurahan di daerah ini.
    Menurut dia,jika setiap desa dan kelurahan memiliki tim relawan bencana alam, maka akan sangat membantu pemerintah dalam melalukan tindakan kedaruratan di lokasi bencana.
    Selain itu, penanganan bencana akan lebih cepat karena ada tim relawan bencana yang ada di setiap desa dan kelurahan.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com