• iklan 3


  • “Komunitas Kampung” akan dibahas di “PrepComm” Habitat III

    0

    Palembang, jurnalsumatra.com – Kesuksesan “komunitas kampung” di Surabaya dan Bandung dalam mengubah penampilan kota akan dibahas dalam Sidang Pra Komite (Preparation Committee) Habitat III di Surabaya, 25-27 Juli 2016.

    Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Lana Winayanti di Palembang, Jumat, mengatakan saat ini PBB sebagai perancang Sidang Habitat menginginkan keterlibatan aktif masyarakat dalam pembangunan kota-kota di dunia.

    “Gerakan itu diharapkan dari bawah, bisa dari komunitas atau dari masyarakatnya langsung. Tidak lagi seperti sebelumnya yang hanya mengandalkan pemerintah seperti dokumen Sidang Habitat I pada tahun 1976,” ujar Lana.

    Ia mengemukan Indonesia sebagai negara yang dipercaya PBB untuk memimpin negara-negara di Asia Pasifik dalam melahirkan dokumen baru “New Urban Agenda” bertekat memberikan peranan penting dalam perumusan konsep.

    Konsep ini nantinya akan diketok palu pada Sidang Habitat III di di Quito, Ekuador pada 17-20 Oktober 2016.

    “Saat ini Indonesia sedang mengumpulkan masukan-masukan dari para komunitas di Surabaya dan Bandung mengenai bagaimana cara mereka memberdayakan masyarakat untuk mengubah tampilan kota. Konsep komunitas kampung ini akan diusung secara internasional,” paparnya.

    Ia menceritakan seperti di Surabaya terdapat kampung yang awalnya dikenal kotor, kering, dan semerawut, tapi kini telah berubah total berkat adanya gerakan komunitas dari kalangan pemudanya.

    “Kehadiran kampung ini justru berhasil mengubah wajah Surabaya yang dulunya panas dan kering, sekarang sudah sangat hijau, adanya wifi di mana-mana,” tuturnya.

    Lantaran ini pula, PrepComm Habitat III digelar di Surabaya agar delegasi dari negara-negara perserta dapat melihat secara langsung bagaimana kota dapat ditata dengan baik berkat keterlibatan penuh masyarakat.

    Fikri Satari, LSM-Bandung Creative City Forum mengatakan apa yang dilakukan di Surabaya juga telah dilakukan di Bandung.

    Saat ini terdapat tiga kampung yang ditetapkan komunitas sebagai kampung kreatif, di antaranya Kampung Linggawastu.

    “Awalnya ingin sungai bersih dari sampah, tapi setelah dianalisa persoalan ini tidak akan selesai jika tidak dimulai dari akarnya yakni dari kampungnya yakni bagaimana caranya agar warga tidak membuang sampah,” tambahnya.

    Indonesia dipercaya PBB memimpin negara-negara di Asia Pasifik untuk pembahasan agenda perkotaan dunia pada Sidang Pra-Komite Habitat III di Surabaya pada 25-27 Juli 2016.

    Keputusan yang didapatkan pada perdebatan di Surabaya itu nantinya akan dibawa ke Sidang Habitat III di Quito, Ekuador pada 17-20 Oktober 2016.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com