• iklan 3


  • DPRD Mimika Harapkan Pabrik Sagu Segera Beroperasi

    0

         Timika, jurnalsumatra.com – Kalangan DPRD Mimika, Provinsi Papua, mengharapkan pabrik pengolahan tepung sagu yang dibangun Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) di Kampung Keakwa segera beroperasi untuk menunjang peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
    Wakil Ketua Komisi A DPRD Mimika Robertus Waraopea di Timika, Selasa, mengatakan pabrik pengolahan tepung sagu di Keakwa hingga kini belum beroperasi karena masih terkendala pengurusan dokumen amdal.
    “Kami harapkan pengoperasian pabrik pengolahan tepung sagu di Keakwa itu secepatnya dilakukan. Dokumen-dokumen administrasi yang diperlukan untuk mendukung kelancaran operasi pabrik ini harus segera diurus dan diselesaikan oleh LPMAK. Kami harapkan Badan Lingkungan Hidup Pemkab Mimika juga mendukung hal ini,” katanya.
    Dia mengatakan pembangunan pabrik pengolahan tepung sagu di Keakwa itu telah menghabiskan anggaran yang besar, hingga mencapai puluhan miliar rupiah.
    Lantaran itu, katanya, LPMAK dan Pemkab Mimika perlu bekerja sama secara harmonis agar aset tersebut bisa didayagunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kampung Keakwa dan masyarakat Suku Kamoro lainnya yang bermukim di wilayah pesisir Mimika.
    “Pabrik pengolahan tepung sagu tersebut dibangun untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Kamoro dengan memanfaatkan sumber daya hutan sagu milik mereka. LPMAK sudah menggelontorkan dana yang sangat besar untuk membangun pabrik ini sehingga diharapkan pemerintah juga ikut mendukung agar segera beroperasi untuk membantu masyarakat,” kata Robertus yang juga anggota Badan Pengurus LPMAK itu.

         Saat memberkati fasilitas pabrik pengolahan tepung sagu di Kampung Keakwa pada Oktober 2015, Uskup Timika Mgr John Philip Saklil Pr berharap fasilitas tersebut dapat mendukung eksistensi kehidupan warga Suku Kamoro.
    “Tempat ini merupakan kampung lama orang Keakwa. Karena situasi perang saat itu, masyarakat secara berkelompok membangun perkampungan tersembunyi di dalam hutan. Ketika situasi mulai aman dan gereja masuk, masyarakat pindah ke pantai. Orang tidak pernah bermimpi kampung ini akan dibangun kembali. Ini sebuah mukjizat, dari sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin,” ujarnya.
    Uskup Saklil berharap warga Suku Kamoro yang bermukim di Kampung Keakwa dan kampung-kampung sekitarnya, seperti Timika Pantai, Atuka, hingga Kokonao dapat memanfaatkan maksimal fasilitas yang dibangun LPMAK tersebut untuk menunjang kehidupan mereka.
    “Kita punya pohon sagu tidak ada yang tanam. Tuhan yang tanam. Kalau pohon sagu dipotong terus maka lama kelamaan akan habis. Tugas kita semua untuk menanam sagu di lahan-lahan tidur untuk diwariskan ke anak cucu kita nanti. Potensi sagu yang sangat luas, hasil-hasil laut, sungai, dan hutan yang melimpah hendaknya dapat diolah secara lestari dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” katanya.
    Ia mengatakan kekayaan alam yang melimpah di Mimika, hendaknya menjadi berkat bagi masyarakat setempat.
    “Kalau semua kekayaan alam yang Tuhan berikan secara cuma-cuma ini tidak mampu kita olah, kita tetap miskin di atas kekayaan alam kita,” kata Uskup Saklil.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com