• iklan 3


  • Nanang Kreator Moge dari Limbah Perlu Dukungan

    0
    Nanang Kreator Moge dari Limbah Perlu Dukungan

    Nanang Kreator Moge dari Limbah Perlu Dukungan

    Palembang, jurnalsumatra.com – SEDERET miniatur Moge terparkir rapi di dinding kamar Nanang, Jl Supersemar, Lr Sepakat Jaya 2, Kelurahan Pipa Reja, Kecamatan Kemuning, Palembang, Rabu (4/5). Sementara di bawah lantai kamar ukuran 3×3 tersebut, berserakan sejumlah kaleng rokok bekas dan alat tukang seadanya. “Kaleng ini, bahan utama membuat Moge,” kata Nanang menunjukkan kaleng bekas rokok membuka obrolan dengan wartawan.

    Kebiasaan Nanang mengolah bahan bekas ternyata bernilai seni yang tinggi. Awalnya pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan ini menceritakan hanya mengisi waktu luang. Sekitar setengah tahun lalu, ia mencoba merangkai untuk membuat motor vespa secara otodidak melalui gambar atau brosur-brosur motor. “Namanya juga tukang, sibuk kalau ada pangilan kerja, ketika sepi ya bisa satu sampai dua minggu nganggur. Dari pada stres, ya utak-atik barang bekas saja,” kata pria yang masih single ini.

    Nanang mengaku, semua bahan baku membuat miniatur Moge dari barang bekas. Meliputi, kaleng rokok untuk bodi motor, selang AC (ban), korek api (kerangka), kawat (pengikat) dan lem pengeras serta pernis. “Untuk satu Moge bisa habis 10 kaleng dengan estimasi waktu tiga sampai empat hari,” tuturnya. Ia menyebutkan rangakaian demi rangkaian proses pembuatan cukup rumit karena harus teliti. Sebab jika tidak sabar bisa merusak rangkaian. “Semua bahan bekas saya cari di sisa-sisa bangunan,” tambahnya.

    Ia memaparkan satu persatu proses pembuatan miniatur Moge, mulai dari pengumpulan bahan bekas yang ia peroleh dari warung dan sisa bangunan, kemudian bahan dipotong menggunakan gunting kawat dan rangakaian bodi setiap bagian motor dari kawat. Selanjutnya, memasang ban dari selang AC dan isi korek api gas. “Jika semua rangkain selesai, terakhir di cat pernis agar mengkilat,” terangnya.

    Nanang menuturkan, tidak mengalami kesulitan dalam pengumpulan bahan dan pekerjaan ini. “Hanya butuh ketelitian saja,” ungkapnya. Hal yang paling pokok dirasakannya adalah modal awal untuk membeli bahan yang tidak ada dari barang bekas, misalnya lem dan pernis. “Modalnyo yang susah, untuk 1 Moge membutuhkan modal Rp 30 ribu, sementara saya jual Rp 100 ribu,” tuturnya.

    Kesulitan lainnya yang Nanang Alami yakni pemasaran, meskipun sudah membuat karya yang bagus dengan desaind miniatur yang komplit dan harga murah. Ternyata tidak membuat barangnya laris, karena kesulitan untuk memasarkan karyanya. “Yang beli baru teman-teman dan tetangga saja,” keluhnya.

    Ia mengaku ingin membuka lapak di tempat-tempat keramaian di Metropolis, tapi tidak tahu caranya. Banyak juga yang menyarankan untuk menjual online melalui medsos. “Meskipun belum dipasarkan secara serius, tapi banyak yang sudah beli. Dalam sebulan bisa empat sampai lima motor pesenan teman-teman,” timpalnya.

    Ia berharap ada bantuan dari pemerintah atau komunitas terkait untuk bisa membantu modal dan pemasaran agar karyanya bisa dikenal dan dibeli banyak orang. “Pengen kalau bisa hobi ini jadi pekerjaan, kan lumayan,” tukasnya polos.

    Sementara itu, Wirangga, pembeli dan pecinta miniatur Moge mengaku senang dan suka dengan karya Nanang. Sebab, hasilnya sangat komprehensif sebagai miniatur tanpa ada satupun bagian asli yang terlewatkan. Mulai dari yang kecil-cecil, seperti lampu sen, rante, pijakan rem dan kenalpot. “Saya sudah beli 2 Moge, saya suka apalagi murah. Selain pembeli saya juga bantu pasarkan ke teman-teman pencinta Moge lainnya,” pungkas Angga. (eka)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com