• iklan 3


  • BLH Mataram Dorong Dikpora Ciptakan Sekolah Adiwiyata

    0

    Mataram, jurnalsumatra.com- Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mendorong Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) untuk menciptakan sekolah Adiwiyata berbasis pengelolaan lingkungan hidup.
    “Tujuannya, guna membentuk sekolah peduli terhadap lingkungan hidup sebagai upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan  bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang,” kata Kepala BLH Kota Mataram M Saleh di Mataram, Jumat.
    Ia mengatakan, untuk menjadi sekolah Adiwiyata sekolah harus dapat mengakomodasi program Adiwiyata masuk dalam kurikulum pelajaran.
    “Jika program Adiwiyata tidak bisa terakomodasi dalam kurikulum, maka sekolah tersebut tidak bisa menjadi sekolah Adiwiyata,” sebutnya.
    Ia mengatakan, program Adiwiyata ini sangat penting ditanamkan sejak dini sehingga siswa dan guru di sekolah memiliki tanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
    Di Mataram, kata Saleh begitu dia akrab disapa, memang belum ada satupun sekolah yang dinyatakan sebagai sekolah Adiwiyata, namun embrionya sudah banyak.
    Seperti di SMAN 2, SAMN 3, SAMN 5, SMAN 7, SDN 2 Cakranegara dan SMPN 2 Mataram, melalui program sekolah sehat.
    “Program sekolah sehat merupakan embrio sekolah Adiwiyata, karena jika kita bisa memasukkan program Adiwiyata dalam kurikulum mereka maka sekolah tersebut bisa masuk menjadi sekolah Adiwiyata,” katanya.
    Menurutnya, sekolah-sekolah yang menjadi embrio sekolah Adiwiyata itu sudah melaksanakan beberapa program pelestarian lingkungan hidup.
    Salah satunya dalam pengelolaan sampah melalui penerapan konsep 5R yaitu “Reduce” (mengurangi), “Reuse” (menggunakan kembali), “Recycle” (mendaur ulang), “Replace” (menggunakan kembali) dan “Replant” (menanam kembali).
    “Bahkan sekolah-sekolah telah menerapkan sistem pemilihan sampah, organik dan anorganik yang sangat dipatuhi oleh para siswa,” katanya.
    Akan tetapi, kekurangannya dalam hal ini adalah kesadaran siswa setelah berada di luar lingkungan sekolah yang semestinya perilaku di lingkungan sekolah itu bisa dibawa ke lingkungan luar termasuk di rumah.
    “Di sinilah pentingnya kurikulum Adiwiyata, serta pengawasan dari sekolah untuk dapat melakukan kunjungan ke rumah siswa dan melihat apakah prilaku siswa di sekolah juga diterapkan di lingkungan rumah,” ujarnya.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com