• Polres Kotim Berantas Premanisme Berkedok Parkir Liar

    0

          Sampit, Kalteng, jurnalsumatra.com – Kepolisian Resor Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menegaskan akan terus menertibkan premanisme di wilayah hukum, tidak terkecuali aksi bermodus parkir liar yang kini banyak dikeluhkan masyarakat.
    “Tindaklanjutnya kita amankan dan beri pembinaan. Tapi kalau sudah meresahkan dan ada unsur-unsur tindak pidana, maka akan kita proses secara pidana,” tegas Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim) AKBP Hendra Wirawan di Sampit, Rabu.

          Hingga saat ini, masyarakat terus mengeluhkan perparkiran di Kotim, khususnya di Sampit karena dinilai tidak sesuai ketentuan. Selain tidak memberikan karcis, petugas parkir umumnya memberlakukan tarif melebihi batas yang diatur dalam peraturan daerah. Seperti tarif parkir kendaraan roda dua yang seharusnya hanya Rp1.000, kini dipungut Rp2.000.
    Kepolisian berusaha membantu pemerintah daerah dalam menertibkan petugas parkir liar karena bisa mengarah pada premanisme. Kepolisian, khususnya melalui Satuan Lalu Lintas dan Polsek setempat sudah beberapa kali menertibkan preman dan juru parkir liar.

          “Ini termasuk program prioritas Kapolri yaitu memberantas premanisme. Kami mensinyalir ada beberapa titik parkir yang tidak sesuai dengan jumlah retribusi maupun lokasinya, akhirnya ini bisa kita katakan premanisme karena masyarakat selaku pengguna parkir mau tidak mau harus bayar. Ini yang kita tertibkan,” tandas Hendra.
    Hendra memastikan pihaknya akan terus memantau masalah ini. Penertiban akan kembali dilakukan pada waktu yang dinilai tepat, untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.

          Surya, salah seorang warga Sampit mengaku sangat mendukung penertiban petugas parkir liar. Selama ini petugas parkir sering bertindak semaunya sehingga banyak merugikan masyarakat.
    “Pemerintah daerah harusnya malu kalau polisi yang akhirnya turun tangan. Masalah ini terus menerus dikeluhkan, tapi Dinas Perhubungan seolah membiarkan saja. Buktinya, masalah ini sampai saat ini belum bisa diatasi. Ini bukan cuma urusan Rp 1000, tapi soal aturan,” kata Surya.
    Dia mengaku jengkel karena sudah beberapa kali mampir belanja sebentar di toko, ketika ke luar ternyata sudah dikenakan parkir. Bahkan, tarif parkir yang diminta Rp2.000. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan karena dikhawatirkan akan memicu kemarahan besar masyarakat yang bisa memicu masalah.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com