• iklan 3


  • PEMPROV: Komunitas Pemburu Gerhana Asing Dominasi Ngatabaru

    0

    Palu, jurnalsumatra.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengungkapkan bahwa komunitas pemburu gerhana mancanegara lebih mendominasi wilayah pengamatan di Desa Ngatabaru Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi.
    “Kurang lebih jumlahnya sekitar 3000 orang,” ungkap Asisten Bidang Ekonomi dan SDA Setda Sulteng, Bunga Elim Somba di Palu, Selasa.
    Menurut dia, komunitas lainnya tersebar di tujuh kabupaten dan kota se-Sulteng yakni Desa Kota Palu Kabupaten Sigi sekitar 350 orang, Desa Pakuli Utara Kabupaten Sigi sekitar 50 orang dan Desa Kalora Kabupaten Poso sekitar 100 orang.
    Menurut dia, Gerhana Matahari Total merupakan kejadian langka yang kemungkinan terjadi di Palu sekitar 300 tahun lagi. Hal itu perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mempromosikan destinasi pariwisata di Sulteng.
    “Seperti pernyataan Bapak Gubernur, momentum GMT 2016, kita manfaatkan untuk mempromosikan potensi dan produk unggulan daerah serta destinasi parawisata yang ada di Sulteng,” ujarnya.
    Lebih lanjut kata dia, di lokasi Ngatabaru para pemburu gerhana akan berkumpul dan berbagi pengalaman dalam bidang penelitian, seni, budaya dan kesehatan.
    “Mereka juga akan meluncurkan buku tentang gerhana yg akan diliput oleh CNN dan National Geography. Betapa bangganya kita dipromosikan ke mancanegara tentang keberadaan kota Palu, Kabupaten Sigi dan Provinsi Sulawesi Tengah,” imbuhnya
    Menurut Elim, kegiatan di lokasi Ngatabaru telah dipersiapkan dan disosialisasikan sejak Februari 2015 oleh interstelar sebagai EO yg berkedudukan di Singapura. EO tersebut bekerja sama dengan EO lokal yakni Hasan Bahaswan Institute (HBI).
    Ia berharap agar masyarakat dapat menghargai para EO yang sudah mendatangkan dan meyakinkan para wisatawan untuk datang ke Palu. “Sehingga tugas kita, bagaimana memberikan kenangan yang baik melalui kenyamanan, keamanan, keindahan, keramahan masyarakat dan juga berbagai Kuliner serta cinderamata yang disajikan.”
    “Sehingga para wisatawan tersebut, akan memberi informasi keluar atau mereka akan kembali dan mengajak teman-temannya datang ke Sulteng, sebagai destinasi Parawisata yang patut dikunjungi,” tutup Elim.
    Terpisah, Ketua Ombudsman perwakilan Sulteng, Sofyan Farid Lembah mengatakan gegar budaya sebagai dampak adanya wisatawan mancanegara di Sulteng perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah setempat.
    “Itu dilakukan sebagai bentuk pengawasan tanpa menggangu aktivitas turis di lokasi yang telah mereka tentukan, dan ini adalah kewajiban Negara,” tekannya.
    Menurut dia, pengawasan terhadap orang asing merupakan kewajiban daerah. Jangan karena ingin memberikan kenyamanan untuk turis, kita menjadi lengah. Ia mengakui bahwa masyarakat Sulteng, sangat terbuka terhadap pendatang termasuk turis.
    “Akan tetapi, jangan sampai perilaku turis membuat resah masyarakat, seperti beredarnya video perilaku bule yang tidak sesuai dengan budaya setempat. Jadi sebaiknya pengamanan dan pengawasan penting dilakukan,” ujarnya.
    Selain itu kondisi Sulteng, berbeda dengan Bali yang punya Pecalang dalam melakukan pengawasan.
    “Ini jadi pembelajaran ke depan kita, bangun kekuatan pengawasan lewat program Sadar Wisata (Darwis),” kata Sofyan.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com