• iklan 3


  • Universitas Brawijaya Hibahkan Lahan 87 Hektare Ke Unila

    0

         Malang, jurnalsumatra.com – Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, berencana menghibahkan lahan hutan seluas 87 hektare berlokasi di Lampung Barat ke Universitas Lampung (Unila) karena akan lebih fokus mengelola hutan pendidikan yang ada di Malang.
    “Lahan percobaan Fakultas Pertanian seluas 87 hektare yang ada di Lampung Barat itu sampai sekarang belum dilakukan pengelolaan secara maksimal oleh UB karena sebagian lahan tersebut masih dikuasai oleh masyarakat setempat,” kata Rektor UB Prof Dr Mohammad Bisri di Malang, Kamis.
    Lahan Percobaan Fakultas Pertanian UB yang ada di Lampung Barat itu semula seluas sekitar 200 hektare, namun setelah diurus melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN), pada tahun 2011 keluar SHM seluas 87 hektare.
    Menurut Bisri, lahan seluas sekitar 87 hektare tersebut loaksinya terlalu jauh dan tidak efektif. Oleh karena itu, UB berencana menghibahkannya ke Unila agar bisa dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal untuk dunia pendidikan di kampus itu. Karena hibah ini antarkampus milik pemerintah atau goverment to goverment (G to G), sehingga tidak masalah.
    “Lahan seluas 87 hektare itu akan kami hibahkan ke Unila dan UB sendiri akan fokus dan konsentrasi mengelola lahan hutan seluas 514 hektare hibah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang berlokasi di kawasan Karangploso, Kabupaten Malang dan Kota Batu,” ujarnya.
    Ia mengatakan untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan hutan seluas 514 hektare tersebut, pihaknya akan membentuk tim. “Karena lahannya sangat luas (hampir 10 kali luas kampus UB), perlu penanganan dan pengelolaan ekstra, termasuk bagaimana pengamanannya nanti,” ujar Bisri.
    Bisri mengaku dalam benaknya sidah tergambar rencana pengelolaannya, sebab dari lahan seluas 514 hektare itu tidak seluruhnya untuk keperluan hutan lindung dan koservasi saja, tetapi juga ada sebagian yang dikomersialkan (hutan produktif), bahkan nantinya sebagian area juga untuk usaha peternakan, yakni pembesaran sapi secara modern dan perkebunan kakao serta kopi.
    “Kalau sebagian lahannya tidak ditanami tanaman produktif atau dikomersialkan, untuk membayar pajak tanah juga akan kerepotan, sebab pajaknya setiap tahun mencapai Rp100 juta. Oleh karena itu, lahan tersebut juga harus menghasilkan, selain digunakan untuk kepentingan pendidikan,” tuturnya.(anjas)

  • iklan 3




  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com