• Usulan Anggaran Dana Keistimewaan 2017 Rp70 Miliar      

    0

    Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Yogyakarta mengajukan revisi usulan dana keistimewaan 2017 hingga hampir delapan kali lipat dibanding usulan awal, yaitu dari Rp9 miliar menjadi Rp70 miliar.
    “Setelah dilakukan kajian ulang mengenai kegiatan yang bisa didanai menggunakan dana keistimewaan, maka kami pun mengajukan revisi usulan anggaran dengan nilai yang cukup besar,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharso di Yogyakarta, Sabtu.
    Menurut dia, Pemerintah Kota Yogyakarta sudah mengajukan revisi usulan dana keistimewaan tersebut ke Pemerintah DIY melalui Dinas Kebudayaan yang disampaikan pekan lalu.
    Sejumlah kegiatan yang direncanakan didanai dengan dana keistimewaan di antaranya adalah pembelian bangunan cagar budaya dengan nilai sekitar Rp15 miliar, dan rehabilitasi bangunan cagar budaya dengan nilai Rp25,7 miliar.
    “Ada beberapa ‘ndalem’ yang masuk bangunan cagar budaya dan perlu direhabilitasi. Misalnya saja Ndalem Brontokusuman dan Ndalem Mangkubumen,” kata Eko.
    Pada 2015, Pemerintah Kota Yogyakarta juga memiliki kegiatan pembelian bangunan cagar budaya dengan menggunakan dana keistimewaan, namun kegiatan tidak bisa direalisasikan karena pembelian bangunan cagar budaya menggunakan nilai taksiran (appraisal) murni.
    “Nilai appraisal hanya dihitung berdasarkan nilai tanah dan bangunan tanpa memperhatikan nilai sejarah yang dimiliki bangunan tersebut. Harapannya, pembelian bangunan cagar budaya pada tahun depan memperhatikan nilai sejarah bangunan,” kata Eko.
    Selain digunakan untuk mendanai kegiatan fisik, Pemerintah Kota Yogyakaya juga mengusulkan kegiatan non fisik di antaranya adalah pembinaan dan penguatan 20 kampung budaya.
    “Bentuknya dana stimulan untuk kampung budaya sehingga potensi yang mereka miliki bisa terus dikuatkan. Total dana yang kami usulkan sekitar Rp2,1 miliar,” katanya.
    Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta juga mengusulkan anggaran Rp4 miliar untuk pembinaan paguyuban seni budaya di antaranya kesenian keroncong, kulit, ketoprak, sendratari, karawitan, pedalangan, seni gejog lesung dan berbagai seni tradisi lainnya.
    “Dana dialokasikan untuk kegiatan pelatihan dan pentas. Namun, belum digunakan untuk kepentingan pentas secara profesional,” kata Eko.
    Selain itu, Eko mengatakan akan fokus pada kegiatan penelitian dan pengembangan budaya guna mengetahui perubahan dan arah perkembangan budaya di masyarakat sekaligus untuk pelestarian budaya tradisional.
    “Tujuannya adalah untuk mengetahui arah perubahan budaya di masyarakat dan mencari solusi untuk melestarikan budaya tradisional agar tidak hilang akibat perubahan zaman,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com