• Urgensi Persatuan Nasional

    0
    aufal

    Muhammad Aufal Fresky (Alumnus Porgam Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga)

    Banyak yang beranggapan bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis multideminsional. Mulai dari krisis ketaladanan, krisis karakter, krisis kejujuran dan sebagainya. Rasa-rasanya masalah moral dan etika menjadi barang yang antik bagi sebagian kalangan. Kita sepertinya mengalami kesulitan untuk sekedar menemukan sosok pemimpin bangsa yang arif dan bijaksana. Bagaimana tidak,  hampir setiap harinya kita selalu disuguhi  pemberitaan para koruptor yang kebanyakan adalah pejabat publik. Mulai dari ranah eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Entahlah, kita sulit sekali menemui sosok pemimpin yang menghargai rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Meskipun ada, jumlahnya mungkin hanya bisa dihitung jari.

    Ini adalah tantangan bangsa ini ke depan. Apalagi bangsa ini telah resmi berhadapan langsung dengan masyarakat ekonomi Asean (MEA), yang artinya permasalahn yang akan datang jauh lebih kompleks. Dibutuhkan peran pemimpin bangsa yang tegas dan berwibawa untuk membawa bangsa  ini menuju cita-cita yang telah ditetapkan. Memang setiap masalah bukan untuk dihindari, tetapi dijadikan pembelajaran dan tantangan ke depan untuk berbenah. Meskipun kita mengalami berbagai krisis nilai dan krisis kejujuran, kita harus tetap optimis bahwa bangsa ini mampu untuk melakukan yang terbaik untuk bansganya. Biarkanlah para koruptor itu bersuka ria, kita sebagai rakyat harus tetap optimis bahwa jika pengadilan negara tidak bisa menghakimi mereka, maka pengadilan Tuhan di akhirat tidak akan pernah luput mencatat perbuatan mereka.

    Sekali lagi, kompleksitas permasalahan bangsa harus dihadapi dengan pikiran yang jernih. Jangan sampai kita sebagai rakyat merasa pemerintahan telah hilang kredibilitas dan integritasnya, karena bagaimanapun juga masih banyak aparatur negara yang memiliki jiwa untuk melayani masyarakat. Kita harus membangun rasa optimisme dalam diri kita. Jangan sampai setiap persoalan yang terjadi menjadikan diri kita pesimis. Karena jika hal itu terjadi, maka bangsa ini akan kesulitan untuk berkembang. Salah satu cara untuk menjadikan bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang maju dan berkembang adalah dengan memupuk optimisme dan kepercayaan diri dalam diri setiap anak bangsa.

    Selain itu, satu hal lagi yang perlu dilaksanakan yaitu kita mesti memperkuat solidaritas sosial dan persatuan nasional sebagai sebuah bangsa. Karena persatuan dan kesatuan bangsa menjadi sebuah cara terbaik untuk menghadapi tantangan global ke depan. Tentunya juga dengan modal manusia yang mumpuni. Jangan sampai kita menjadi sebuah bangsa yang tercerai berai karena suatu permasalahan yang terjadi. Bukankah kita bisa belajar dari sejarah kemerdekaan bangsa. Yaitu manakala penjajah menggunakan taktik dan strategi memecah belah anak bangsa untuk menghentikan pergerakan dan perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Jadi hal itu tidak boleh terulang lagi. Kita harus memantapkan diri bahwa bangsa yang terpecah belah, atau bangsa yang tercerai berai maka akan menjadi sebuah bangsa yang nantinya hancur bahkan rusak dari segala sisi.

    Persatuan nasional adalah harga mati bagi kita. Dalam hal ini diperlukan kesadaran kolektif dari setiap elemen bangsa bahwa kita merupakan satu kesatuan. Kita pernah mengalami sejarah kelam yang pahit. Kita pernah mengalami sengsaranya penjajahan. Walaupun yang mengalami secara langsung adalah nenek moyang kita. Tetapi hal tersebut memiliki hubungan emosional dengan kita sebagai anak bangsa. Sebagai salah satu putera-puteri bangsa yang nantinya akan turut andil dalam memperjuangkan bangsa dalam segala bidang. Terutama dalam hal mengangkat harkat dan martabat manusia Indonesia di kancah Internasional.

    Ingatlah, kita memiliki petuah atau slogan yang luar biasa. Yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Artinya adalah walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Jadi, slogan tersebut menjadi jimat yang merekatkan masyarakat Indonesia. Kita tahu bahwa bangsa ini sangat heterogen. Terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras, budaya yang berbeda-beda. Bangsa ini sejatinya adalah bangsa multikultural. Menjadi sebuah keunikan tersendiri bagi kita untuk menjalin kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Oleh karena heterogenitas itu, maka dituntut untuk menjadi manusia Indonesia yang toleran. Artinya jangan sampai kita mengedepankan ego kita dalam melihat suatu persoalan. Tetapi lebih kepada melihat secara lebih jernih dengan mengacu pada nilai kebersamaan, nilai kebhinnekaan, nilai persatuan, dan toleransi. Dengan persatuan yang kokoh antar elemen bangsa, maka diharapkan kita bisa menjadi bangsa yang besar serta menciptakan kembali peradaban yang gemilang di kemudian hari.

    Kita harus yakin bahwa menjaga kebersamaan dan persatuan bangsa adalah hal yang mutlak untuk dilakukan. Sebagai anak bangsa kita mesti menjaga jalinan kebersamaan dan solidaritas sosial ini sebagai cara untuk menghadapi tantangan ke depan. Ini adalah salah satu modal sosial bagi kita. Ini menjadi modal kultural dalam menghadapi setiap persoalan bangsa. Kita mesti memahami bahwa persatuan bangsa atau persatuan nasional adalah suatu hal yang penting untuk dilestarikan dan dikembangkan.

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com