• UNDANA Kembangkan Teknologi Aquaponik Budidaya Ikan Lele    

    0

    Kupang, jurnalsumatra.com – Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tengah mengembangkan teknologi aquaponik -mengkombinasikan pemeliharaan ikan dengan tanaman- untuk membudidayakan ikan lele yang diadaptasikan dari sistem budidaya Negara Israel.
    “Sistem budidaya ikan ini diadaptasi dari Israel dengan memanfaatkan teknologi sederhana dan sangat memungkinkan diterapkan pada kondisi lahan yang terbatas,” kata Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Undana Prof Ir Ricky Gimin PhD kepada Antara ketika dikunjungi di tempat budidaya ikan di Udana, Kupang, Selasa.
    Proyek budidaya ikan lele yang dimulai sejak tahun 2011 tersebut memanfaatkan lahan sempit di sekitar kampus tersebut.
    Prof Ricky menjelaskan budidaya ikan tersebut memanfaatkan teknologi yang sederhana berupa wadah ikan, bak penampung atau tanki air, dan beberapa pipa paralon untuk aliran sirkulasi air yang dibantu dengan dinamo.
    Sirkulasi air ke wadah ikan itu disaring secara alamiah dengan memanfaatkan tanaman produktif yang ditanam dalam wadah yang ditempatkan diisi dala pipa paralon (diberikan lobang sesuai ukuran wadah tanaman) dan juga wadah khusus disiapkan untuk tanaman lain.
    “Teknologi aguaponik ini tidak hanya digunakan untuk budidaya lele namun juga tanaman produktif seperti cabe, padi, tomat, sayur-sayuran seperti kangkung, bayam,” katanya.
    Hasil budidaya lele, lanjut dia, sudah dipasarkan untuk menambah kebutuhan warung-warung makan yang ada di Kota Kupang dengan jumlah hasil sekali panen setiap 10 Minggu mencapai 200 kilogram.
    “Kalau masyarakat yang datang langsung ke sini kita berikan harga Rp35.000 per kilogram, sementara untuk harga pasaran pasokan ke rumah makan Rp40 ribu per kilogram,” katanya.
    Dosen FKP itu mengakui, budidaya ikan tersebut masih dalam pencontohan (pilot project) dan pihaknya sementara mengembangkan dalam kapasitas yang lebih besar untuk budidaya ikan patin dan juga sayuran brokoli, wortel dan lainnya.
    Menurut dia, budidaya ikan lele tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi sejalan dengan tingginya permintaan masyarakat, sehingga memungkinakan untuk dikembangkan oleh berbagai kelompok masyarakat guna meningkatkan perekonomiannya.
    Apalagi, kata dia, teknologi aquaponik tidak memerlukan lahan yang luas dan juga cocok untuk berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur yang seringkali terkendala pasokan air.
    “Teknologi ini tidak membutuhkan air yang banyak dan hanya diganti sebulan sekali karena air tersebut sudah disaring secara alamiah melalui tanaman,” katanya.
    Oleh

    karenanya, dia berharap agar pemerintah daerah setempat dapat mendorong berbagai kelompok masyarakat untuk bisa belajar dan menerapkan teknologi tersebut karena hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga menguntungkan secara ekonomi.
    “Kami sangat terbuka bagi siapa saja baik perorangan maupun kelompok masyarakat untuk datang dan belajar terkait teknologi ini sehingga bisa diterapkan di daerahnya,” demikian Prof Ricky Gimin.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com