• PR Harus Beretika dan Moral

    0

    muchamad-husniYogyakarta, jurnalsumatra.com – Profesi Public Relations (PR) sejatinya menuntut seseorang untuk memiliki etika dan moral yang tinggi dalam menjalankan pekerjaannya. Seorang PR harus bisa memegang etika yang diset dengan tinggi. Karena itulah, seorang PR itu harus bisa memisahkan hobi dengan strategi dalam pekerjaan.

    Hal itu diungkapan Muchamad Husni, salah seorang praktisi Public Relations PT Astra Argo Lestari, dalam Sharing Class: Public Relations and Ethics bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, hari ini di Ruang Mini Theater Gedung D Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang dihadiri Dyah Rachmawati Sugiyanto (pranata humas dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

    Menurut Husni, seorang PR harus jujur dan memberi informasi yang jelas. Seorang PR harus mempunyai etika dan moral yang tinggi. Selain itu, juga harus bersikap jujur dan bisa memberikan informasi yang jelas. “Senjata utama PR terletak pada inner beautynya yang biasa ditunjukkan sehari-hari,” tambah Husni, yang mengakui bekerja sebagai PR itu menyenangkan.

    Bekerja menjadi PR itu, dikatakan Husni, bikin happy. Bisa membuat awet muda karena selalu menemukan hal baru, bertemu orang baru. “Dan punya amalan yang banyak karena menjalin silaturahmi dengan orang-orang baru,” terang Husni lagi.

    Husni juga menceritakan pengalamannya menjadi PR di perusahaan swasta. Menurutnya, menjadi PR di perusahaan swasta – khususnya di perusahaan minyak kepala sawit – menemui banyak tantangan. Namun begitu, justru di situlah keseruannya.

    “Minyak kelapa sawit dalam industri minyak selalu dicitrakan negatif. Kami banyak menghadapi kampanye negatif soal minyak kelapa sawit. Industri sawit itu membunuh orang utan, minyak sawit tidak sehat karena dapat menambah kolesterol, dan masih banyak lainnya,” kata Husni yang menjelaskan perusahaan sawit itu tidak seburuk yang diberitakan, bahkan bisa dibilang baik. “Kelapa sawit bisa menjadi potensi nasional Indonesia yang luar biasa,” paparnya.

    Dalam menjalani pekerjaan sebagai PR, Husni mengaku sangat menikmatinya. Selalu menikmati keseharian pekerjaannya. “Kita bisa melihat potensi Indonesia yang luar biasa besarnya. Saya banyak kenal orang baru dan menambah pengalaman seru,” ujar Husni.

    Senada dengan Husni, Dyah Rachmawati Sugiyanto selaku Pranata Humas LIPI juga menekankan etika menjadi PR, yang juga harus siap mental dan menjaga idealisnya. Menjadi PR, bagi Dyah, harus siap mental. “Karena kita kerja di lapangan menghadapi langsung klien, harus siap kerja di manapun, kapan pun dan juga harus tetap menjaga idealisnya sebagai PR,” tutur Dyah Rachmawati Sugiyanto.

    Selain itu, menjadi seorang PR juga dituntut memiliki kemauan belajar yang tinggi. PR butuh belajar semua hal. Tidak cuma ilmu komunikasi, ilmu politik, ilmu ekonomi. “Segala bidang lain harus dipelajari. Untuk itu perlu kemauan belajar yang tinggi. Selain itu, PR juga harus mempunyai sifat berani mencoba, bisa bekerja dalam tim dan juga pandai membangun jaringan,” tambah Dyah. (affan)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com