• Pemkot Surakarta Siap Bentuk Kelurahan Tangguh Bencana

    0

        Solo, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Surakarta siap membentuk enam kelurahan tangguh bencana di daerah itu pada 2017 guna meminimalkan risiko dan penanggulangan bencana alam seperti banjir, angin puting beliung dan lainnya.
    Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo Gatot Sutanto di Solo, Senin, mengatakan  keenam kelurahan itu adalah Sumber, Serengan, Gandekan, Pasar Kliwon, Pucangsawit dan Banyuanyar. Keenam kelurahan itu dinilai siap dibentuk sebagai kelurahan tangguh bencana.
    Gatot Sutanto mengatakan saat ini baru ada tiga kelurahan ditetapkan sebagai kelurahan tangguh bencana, yaitu Sangkrah, Sewu dan Semanggi.
    Ia mengatakan pembentukan kelurahan tangguh bencana merujuk pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. UU itu mengamanatkan adanya perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana.
    Gatot mengatakan hal itu merupakan salah satu strategi untuk mewujudkan keamanan dari bencana melalui pengembangan kelurahan tangguh terhadap bencana dengan upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK).

        Dalam PRBBK, proses pengelolaan risiko bencana melibatkan secara aktif masyarakat dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau dan mengevaluasi risiko bencana untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kemampuannya.
    “Dibutuhkan minimal 30 warga untuk kelurahan tangguh bencana. Dan pembentukan ini tidak mudah, karena harus memberi pelatihan, pendampingan, penanganan dan penanggulangan bencana,” katanya.
    Ia mengatakan  materi yang diberikan di antaranya membuat peta rawan bencana. Setelah itu jalur evakuasi, tempat pengungusian, serta mengatur pembagian tugas.
    “Jadi siap saat terjadi bencana dan harus melakukan apa itu sudah ada. Dapur umum ada. Sehingga tidak panik saat terjadi bencana,” katanya.
    Gatot menilai pembentukan kelurahan tangguh bencana sangat mendesak, terutama karena separuh wilayah Solo rawan bencana banjir. Bencana banjir terus mengancam Kota Solo hingga awal tahun 2017. Program ini dinilai mampu mengurangi risiko atau bahkan bisa menanggulangi bencana banjir.
    “Masyarakat merupakan penerima dampak langsung dari bencana, dan sekaligus sebagai pelaku pertama dan langsung yang akan merespon bencana disekitarnya. Maka masyarakat perlu dibekali dalam konteks pemberdayaan bukan hanya siap menghadapi bencana tapi menjadi agar menjadi tangguh,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com