• Masyarakat Mudah Tertipu Fikiran Instan

    0

    psikologi-uadYogyakarta, jurnalsumatra.com – Dimas Kanjeng piawai dalam memberikan harapan yang menimbulkan optimisme jamaahnya, khususnya dalam mendapatkan sejumlah uang yang berlipat ganda dari jumlah yang disetorkan. Optimisme, menjadi magnet bagi sebuah komunitas untuk mau berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan leadernya.

    Hal itu dikatakan Elli Nur Hayati, MPH, PhD, Psikolog, Ketua Dewan Pakar Clinic for Community Empowerment (CCE) Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Jum’at (14/10/2016), di Kampus 1 Jl Kapas Yogyakarta.

    Seperti dikatakan Elli, masih banyak masyarakat yang cara berpikirnya tidak kritis, mentah atau pendek dan pragmatis. “Sehingga mudah sekali ditipu oleh hal-hal yang bersifat instan dan tidak masuk akal,” papar Elli.

    Di depan awak media, Elli Nur Hayati, mengatakan, banyak orang yang orientasi hidupnya baru pada taraf basic need, yaitu hidup yang masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis: sandang, pangan dan papan. “Ini berarti, mereka masih jauh dari orientasi hidup untuk beraktualisasi diri,” kata Elli yang menambahkan, dalam bahasa agama, mereka masih kental sekali orientasinya pada keduniawian.

    Menurut Elli Nur Hayati, ketika membahas fenomena Dimas Kanjeng ditinjau dari perspektif psikologi komunitas, Dimas Kanjeng piawai dalam mengemas pesan-pesannya yang dalam bahasa spiritual seperti akan menjamin jamaahnya untuk masuk sorga seandainya jamaah bersedia bergabung dalam kegiatannya. “Inilah yang disebut spiritual commitment, walau sifatnya tentu sangat perifer atau permukaan, tentu saja tidak rasional,” kata Elli.

    Dikatakan Elli, penampilan dan metode yang dipergunakan Dimas Kanjeng itu, memiliki “hello effect” yang menimbulkan dampak kepercayaan dan keyakinan dari para jamaahnya. Dalam konteks itulah, apa yang dilakukan Dimas Kanjeng adalah bentuk pemberdayaan atau empowerment masyarakat yang dilakukan untuk misi yang negatif menjadi disempowerment masyarakat. “Karena sifatnya menjerumuskan secara akidah dan menipu secara lahiriyah,” kata Elli didampingi Dr Hadi Suyono, Humas UAD Yogyakarta.

    Pada kesempatan itu, Elli berharap masyarakat tidak “mentah” dalam menerima suatu ajaran. “Terutama ajaran agama yang menggunakan cara-cara tertentu yang kental berorientasi pada nilai-nilai keduniawian,” ujar Elli Nur Hayati.

    Ditambahkan Hadi Suyono, Perguruan Tinggi perlu ada unit reaksi tanggap cepat untuk turun ke lapangan mendampingi orang-orang yang menjadi korban dari sisi agama dan psikologi. “Adanya kasus Dimas Kanjeng itu merupakan suatu momentum yang tepat, dan paling penting adalah tindakan upaya preventif atau sistem peringatan dini daripada upaya sudah terjadi, apa pun itu,” kata Hadi Suyono, yang menambahkan unit pelayanan psikologi nantinya mendekatkan kepada individual dan komunitas. (affan)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com