• Industri Keuangan Syariah Pesaing Keuangan Konvensional

    0

    firdaus-djaelaniSemarang, jurnalsumatra.com – Di depan perwakilan industri pasar modal, industri perbankan dan industri keuangan nonbank, Mohamad Ihsanudin (Kepala Kantor Regional III OJK Jawa Tengah dan DIY) dan Achmad Buchori (Kepala Departemen Pengawas IKNB II B), Dewan Komisioner OJK/Kepala Eksekutif  Pengawas Industri Keuangan Non Bank Syariah (IKNB), Dr Firdaus Djaelani, mengatakan, sebagai industri yang baru berkembang di akhir tahun 1990-an, industri keuangan syariah langsung dihadapkan pada persaingan dengan produk keuangan konvensional yang sudah dikenal masyarakat dengan baik.

    “Sehingga market share industri keuangan syariah masih di seputaran lima persen dibandingkan total industri. Namun demikian, hingga saat ini semakin banyak pelaku industri keuangan  dan masyarakat yang berkontribusi dalam bisnis keuangan syariah,” kata Dr Firdaus Djaelani.

    Di sela-sela pengukuhan pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah periode 2016-2020 serta Satgas Waspada Investasi Provinsi Jawa Tengah dan DIY di Semarang, 7 Oktober 2016, Firdaus mengatakan, industri perbankan syariah, berdasarkan data per Juli 2016, terdapat 12 bank umum syariah, 22 bank umum yang memiliki unit usaha syariah serta 165 bank pembiayaan rakyat syariah.

    Total aset bank umum syariah dan unit usaha syariah pada periode yang sama mencapai Rp. 305,5 triliun dengan market share sebesar 4,73 persen dibandingkan dengan perbankan konvensional. Konversi Bank Aceh menjadi Bank Aceh Syariah mengakibatkan market share meningkat menjadi 5,3 persen.

    Menurut Firdaus, Industri Keuangan Non Bank Syariah, berdasarkan data per Juli 2016, terdapat 32 perusahaan IKNB syariah (full fledge) dan 91 perusahaan IKNB umum  yang memiliki unit usaha syariah. Total aset IKNB syariah mencapai Rp 80,27 triliun dengan market share mencapai 4,53 persen.

    Industri pasar modal syariah, berdasarkan data per September 2016, terdapat 36 manajer investasi yang menerbitkan reksadana syariah, 12 perusahaan efek yang menerbitkan layanan sistem online trading syariah, 326 emiten dan perusahaan publik yang sahamnya merupakan saham syariah serta 51 seri sukuk korporasi dan 53 seri sukuk negara yang telah diterbitkan. Total aset produk syariah di pasar modal mencapai Rp 3.272,84 triliun terdiri atas market capitalization saham syariah, reksadana syariah dan sukuk korporasi.

    Industri keuangan syariah, seperti dikatakan Firdaus Djaelani, menawarkan konsep keuangan yang dibangun atas tiga pilar ekonomi syariah: keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan.

    Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk menciptakan produk syariah yang mudah dan terjangkau oleh masyarakat. Dalam industri perbankan  dan industri keuangan nonbank mengembangkan program Laku Pandai, simpel iB, serta asuransi mikro sebagai produk yang mudah dijangkau masyarakat perkotaan hingga pelosok.

    Sedangkan dalam industri pasar modal syariah, juga mengembangkan kampanye “Yuk Nabung Saham Syariah”, reksadana syariah dan sukuk korporasi guna meningkatkan akses masyarakat terhadap produk investasi syariah. (affan)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com