• Ekonomi Lokal sebagai Modal Utama Pembangunan Sleman

    0

    gudegSleman, jurnalsumatra.com – Kabupaten Sleman kini memiliki produk kuliner yang akan bersaing di pasaran dengan kemasan modern dan tahan lama. Produk kuliner itu berupa gudeg yang dikemas dalam kaleng, yang mampu bertahan hingga 2 tahun dengan rasa dan aroma yang sama dengan gudeg biasa.

    Seperti disampaikan H Subardi, SH, MH, Komisaris PT Risquna Dewaksara, didampingi Menteri Perdagangan RI  Enggartiasto Lukita, Handayani Endang Sri Karti (anggota DPRRI Komisi VI), Kajati DIY, Bupati Sleman, Wakil Bupati Sleman dan Forum Pimpinan Daerah Sleman, anaknya menjadi cucu menantu Yu Jum dan ingin mengembangkan usaha gudeg diawali outlat di Jalan Solo, kemudian Dagen, Pojok Beteng dan tempat oleh-oleh di Yogyakarta.

    “Mestinya cucu langsung Yu Jum yang menggeluti usaha ini, tapi justru anak laki-laki sebagai menantu yang menggeluti usaha gudeg,” kata Subardi, hari ini, yang menerangkan cucu langsung malah menjadi politisi dan menjadi anggota DPRD Sleman.

    Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyampaikan komitmennya dalam mendorong usaha kecil menengah dan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemkab Sleman yang telah mendorong kemajuan UMKM di Kabupaten Sleman.

    “Adanya pabrik ini merupakan inovasi yang luar biasa bagi dunia usaha di Sleman,” kata Enggartiasto Lukita yang menyampaikan penghargaan kepada LIPI karena telah memberikan pendampingan bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha kuliner makanan  tradisional kekayaan makanan khas Yogyakarta.

    Dikatakan Enggartiasto, inovasi pengemasan dengan kaleng yang mampu bertahan hingga 2 tahun mempunyai nilai tambah yang sangat besar. “Karena bisa dibawa ke mana saja dalam waktu yang cukup lama,” tandas Enggartiasto, yang mengakui usaha UKM yang paling sulit adalah menembus pasar. “Maka kewajiban pemerintah adalah membantu UKM agar bisa memasarkan produknya.”

    Awal mula, Subardi dikenalkan dengan LIPI di Gunungkidul, yang telah mengalengkan produk gudeg. Setelah melalui diskusi, penelitian dan pencermatan, anaknya tertarik dan ingin mendirikan pabrik pengalengan gudeg dengan menyewa tanah kas desa yang juga digunakan untuk Pasar Tlogorejo.

    Sebelumnya, digunakan untuk bangunan los daging, tetapi tidak pernah dipakai dan terbengkelai karena kurang laku. Saat ini, pabriknya memproduksi dengan legalitas komplit untuk konsumsi dalam negeri dan lokal Yogyakarta. Produksi yang dihasilkan baru 12 ribu kaleng selama 12 hari kerja. Sehingga 18 hari kerja masih kosong.

    “Dan kekosongan ini saya tawarkan untuk masyarakat yang ingin memasak makanan lain dan mau dikemas dalam kaleng,” kata Subardi yang mempersilakan masyarakat untuk bisa memanfaatkan pabriknya. Subardi pun berharap, produk dan pabrik yang didirikannya itu dapat bermanfaat bagi masyarakat dan mampu mendorong perekonomian di Sleman.

    Sementara itu, Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo, MSi, dalam sambutannya menyampaikan upaya pemberdayaan masyarakat di Sleman memprioritaskan pelaku ekonomi lokal sebagai soko guru perekonomian di Kabupaten Sleman.

    Selaras dengan tema pembangunan Sleman pada 2017 mendatang, yakni memberdayakan potensi ekonomi lokal menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Sleman yang berbudaya, Bupati Sleman menggugah masyarakat untuk menjadikan ekonomi lokal sebagai modal utama pembangunan di Kabupaten Sleman.

    Juga mendorong UKM di Sleman untuk terus mengembangkan diri sehingga tidak dipandang sebelah mata oleh pasar. Untuk mendorong pengembangan industri kecil dan menengah, dikatakan Sri Purnomo, Pemkab Sleman terus memberikan program peningkatan kapasitas serta rutin menyelenggarakan pelatihan dan bimbingan teknis.

    Disamping itu, Pemkab Sleman juga memberikan dana penguatan modal bagi kelompok usaha dan koperasi di Kabupaten Sleman. Hingga bulan Agustus 2016, Pemkab Sleman telah menggulirkan dana penguatan modal sebesar Rp 11,6 M kepada 217 orang, kelompok dan koperasi.

    Selain itu, Pemkab Sleman pada tahun 2016, telah menganggarkan Rp 40 juta sebagai stimulan sertifikasi HKI. Dana stimulan ini ditujukan untuk mengapresiasi dan melindungi hasil karya warga Sleman serta meningkatkan pemahaman masyarakat pelaku ekonomi akan pentingnya HKI sebagai salah satu upaya peningkatan pendapatan pelaku ekonomi. Upaya yang telah dilakukan Pemkab Sleman berhasil meningkatkan jumlah usaha industri dari 16.088 pada tahun 2014, kini menjadi 16.383 atau meningkat 1,83 persen. (affan)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com