• APTI Ajang Peningkatan Lulusan Teknik Berkeahlian

    0

    sri-sunarjonoYogyakarta, jurnalsumatra.com –Rendahnya lulusan teknik yang diserap menjadi insinyur dalam dunia kerja, masih tergolong rendah. Hal itu dikarenakan para sarjana teknik tidak banyak yang mengantongi sertifikat keahlian dan tidak melanjutkan studinya hingga jenjang profesi. Untuk itulah dibutuhkan suatu wadah bagi para lulusan teknik untuk bisa meningkatkan keahliannya agar bisa terserap oleh dunia kerja.

    Salah satu wadah yang bisa dijadikan para lulusan teknik itu adalah Asosiasi Profesi Teknik Indonesia (APTI). Sebagaimana disampaikan Ketua APTI Pusat – sekaligus pendiri APTI – Sri Sunarjono, APTI bisa menjadi salah satu ajang untuk meningkatkan keahlian bagi lulusan teknik.

    Menurut Sri Sunarjono, salah satu tugas asosiasi yaitu diberikannya hak untuk melakukan verifikasi dan validasi bagi yang mau mengajukan keahlian. Biasanya, ketika asosiasi mengadakan workshop, modul yang disampaikan tidak dimasukkan ke dalam kurikulum perkuliahan. “Ini menjadikan mahasiswa tidak mengantongi keahlian seperti ketika disampaikan pada saat workshop,” papar Sri Sunarjono dalam forum Musyawarah Cabang APTI DIY bertajuk “APTI Berbakti untuk Negeri” hari ini di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

    Hitungan jumlah insinyur di Indonesia masih sangat rendah. Kondisi ini lantas menjadikan APTI agar bisa bersinergi meningkatkan lulusan teknik yang berkualitas maupun berkuantitas. Dan, meningkatkan kualitas dan mendorong kuantitas menjadi program kerja APTI. Dalam kuantitas, APTI tergerak untuk meningkatkan jumlah anggota, cabang APTI, perwakilan perguruan tinggi, profesi, sarjana teknik, jumlah insinyur yang teregistrasi maupun jumlah yang layak mendapatkan sertifikasi keahlian.

    “Sementara dalam peningkatan kualitas, yaitu dengan cara meningkatkan profesionalisme anggota melalui berbagai pelatihan,” jelas Sri Sunarjono, Rabu (5/10/2016).

    Dosen Prodi Teknik Sipil FT UMY mengatakan, dalam meningkatkan keahlian para sarjana teknik perlu mengedepankan kode etik, yang saat ini sulit untuk diterapkan. “Meski pemerintah telah mencanangkan program antikorupsi, namun aktifitas-aktifitas yang disusupi korupsi masih ada di sekitar kita,” terang Sri Sunarjono.

     Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UMY – yang juga Ketua APTI DIY –  Jazaul Ikhsan, mengatakan, APTI menjadi sarana untuk mensinergikan dunia pendidikan dan dunia kerja. Terlebih para lulusan teknik perlu memiliki keahlian dalam memasuki dunia kerja.

    “Forum ini yang pada mulanya merupakan forum grup diskusi yang dibentuk dosen-dosen fakultas teknik Perguruan Tinggi Muhammadiyah ditujukan untuk melatih para lulusan teknik menuju dunia kerja maupun menambahkan tenaga ahli,” kata Jazaul Ikhsan.

    Ini artinya, asosiasi ini sebagai penjembatan bagi para lulusan maupun bagi calon insinyur untuk mendapatkan STIR (Surat Tanda Registrasi Insinyur) maupun SKA bagi yang telah menjadi insinyur.

    Adanya APTI ini, Jazaul, berharap,sinergi dunia pendidikan dan dunia kerja semakin terjalin tanpa terlepas dari Persatuan Insinyur Indonesia. Selain itu,mendorong profesionalitas sumber daya manusia dalam penguasaan danpengembangan sesuai kebutuhan kompetensi tenaga ahli teknik. (affan)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com