• Warga Timor Leste Beraktivitas Di Wilayah Demarkasi

    0

        Kefamenanu, NTT, jurnalsumatra.com – Warga Timor Leste dari Ambeno, Distrik Oecusse, masih melakukan aktivitas di zona dua yang merupakan wilayah demarkasi antara Indonesia dan Timor Leste.
    “Namanya wilayah demarkasi tidak boleh ada aktivitas apapun di atasnya, tetapi warga Timor Leste malah melakukan aktivitas seperti biasa. Ini yang kami sesalkan,” kata Ketua Adat Manusasi dari Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur Ferdi Fau kepada Antara di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Selasa.
    Dia menjelaskan areal zona dua merupakan lahan yang steril yang sebenarnya tidak boleh dimasuki oleh warga baik dari Manusasi maupun Ambeno karena masih berstatus sengketa.
    “Selama ini masyarakat Manusasi patuh dengan himbauan pemerintah untuk tidak memasuki atau beraktivitas di zona dua bahkan zona satu untuk menjaga agar tidak terjadi perselisihan,” katanya
    Atas dasar itu Ferdi Fai mengaku mempertanyakan kepada pihak pemerintah terkait masuknya warga Ambeno di wilayah sengketa tersebut.
    Dia menilai bahwa larangan pemerintah tersebut tidak adil bagi masyarakat Manusasi karena tidak diberlakukan untuk masyarakat Ambeno.
    “Selama ini kami sudah patuh untuk larangan tersebut bahkan kami tidak gembalakan ternak, cari kayu sampai ke sekitar zona sengketa tapi kenapa warga Ambeno tidak dilarang,” katanya.
    Secara terpisah, Kepala Badan Pengelola Perbatasan (BPP) Nusa Tenggara Timur Paul Manehat mengatakan zona dua di sekitar Desa Manusasi merupakan wilayah steril dan tidak boleh dimasuki masyarakat karena sedang dalam sengketa.

        “Sudah ada pembagian warga Ambeno hanya bisa beraktivitas di zona tiga dan seharusnya tidak boleh masuk ke wilayah sengketa,” katanya.
    Paul Manehat mengaku pihaknya mengapresiasi tindakan warga Manusasi yang sampai saat ini tidak memasuki daerah sengketa bahkan warga juga tidak memasuki zona satu.
    “Selama ini masyarakat Manusasi sangat patuh dengan larangan pemerintah bahkan areal zona satu pun yang bisa dimasuki pun mereka tidak beraktivitas di situ,” katanya.
    Menurut dia, tindakan tersebut merupakan langka masyarakat dalam menjaga kondisi agar tidak terjadi perselisihan dengan warga Ambeno sambil menunggu hasil diplomasi dari pemerintah.
    “Kita berharap pemerintah pusat segera menyampaikan kepada pemerintah Timor Leste untuk melarang warganya agar tidak memasuki zona sengketa,” katanya.
    Saat ini, areal zona dua seluas lebih dari 200 hektare yang merupakan wilayah perbatasan negara Indonesia-Timor Leste masih dalam kondisi sengketa dan masih dalam proses diplomasi pemerintah kedua negara untuk menentukan batas wilayah.
    Ferdi Fai mengatakan pemerintah Indonesia melalui kementerian terkait sudah meninjau secara langsung zona sengketa tersebut, namun dia berharap agar pemerintah bisa memberikan teguran kepada warga Ambeno untuk tidak beraktivitas di wilayah sengketa tersebut.
    “Kami sudah sangat sabar dan patuh terhadap larangan untuk tidak masuk ke sekitar wilayah sengketa namun kalau mereka (warga Ambeno) tidak dilarang maka kami pun akan mulai beraktivitas di zona satu,” katanya.
    Dia mengatakan, pemerintah melalui aparat pengamanan di perbatasan harus memastikan agar wilayah sengketa tidak boleh diganggu oleh masyaraka Ambeno sambil menunggu adanya hasil kesepakatan dari kedua negara.
    “Kami juga berharap untuk penentuan batas nantinya bisa melibatkan para raja dan tokoh adat dari Ambeno bersama kami untuk melakukan perundingan bersama,” demikian Ferdi Fai.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com