• Wabup OKI Motivasi Kelompok Budidaya Jamur Binaan PT Samporna Agro

    0

    unnamed (42)KAYUAGUNG, jurnalsumatra.com - Setelah berhasil memanfaatkan limbah cair sawit (POME) sebagai Pembangkit listrik tenaga Biogas (PLTBg) pada Desember 2015 lalu, PT Sampoerna Agro, Tbk melalui CSR-nya kembali menginisiasi program pemberdayaan ekonomi masyarakat budidaya jamur merang dengan media limbah sawit tandan kosong Kelapa Sawit.

    Bukan hanya itu, perusahaan yang bergerak di perkebunan kelapa sawit ini juga melakukan pembentukkan kelompok budidaya, ditambah dengan dukungan permodalan usaha bergulir, pendampingan teknis dan managerial serta pemasaran terpadu dan terobosan lainnya berupa pengembangan pusat/sentra pembenihan jamur.

    Managing Director PT Sampoerna Agro, Parluhutan Sitohang melalui GM Plantation Eldi Nuzan mengatakan, selama ini kelompok budidaya jamur merang ini bergantung pada pasokan benih dari Pulau Jawa dengan harga yang cukup mahal ditambah kualitas yang kerap rusak diperjalanan.

    Untuk itu katanya, pihaknya akan membangun Mushroom Learning Center (Pusat Pembelajaran Jamur) yang akan dipusatkan di Desa Sumber Deras. Menurutnya, program pemberdayaan masyarakat ini, tidak akan berhenti di wilayah Desa Sumber Deras. Untuk tahun ini saja, rencananya akan dibuat dua puluh empat kumbung jamur untuk sepuluh kelompok di enam desa, dua kecamatan.

    “Program ini nantinya akan kita coba kembangkan di Kecamatan-kecamatan lainnya di wilayah PT Sampoerna Agro, Tbk,”kata Parluhutan disela kegiatan Soft Launching program pemberdayaan masyarakat di Desa Sumber Deras, Jum’at (16/9/2016).

    Kepala Desa Sumber Deras, menyampaikan jika Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dengan model seperti ini adalah yang dinantikan oleh segenap masyarakat. Terlebih, saat ini masyarakat sudah harus mulai belajar keahlian/keterampilan lain di luar karet dan sawit karena kecenderungan harga komoditas karet yang terus menurun.

    Malik warga Desa Suryakarta, anggota kelompok Sulfat Mushroom menyatakan jika prospek usaha budidaya jamur merang ini bagus, pasarnya terbuka luas tapi justru produktivitasnya masih lemah. Masyarakat juga belum banyak percaya dengan prospek usaha ini.

    Padahal, dirinya sudah sejak enam bulan lalu membiayai kuliah anaknya di Jakarta dengan usaha Jamur ini. “Mudah-mudahan dengan adanya program ini, kita bisa meningkatkan produktivitas, menguatkan kelembagaan, mempererat hubungan dengan Perusahaan, dan menjadi contoh agar masyarakat lainnya dapat tertarik berpartisipasi dalam usaha jamur ini,” ucapnya.

    Sementara itu, Wakil Bupati OKI, H.M. Rifai, SE saat mengahdiri kegiatan soft launching tersebut mengatakan,  yang terpenting dalam pembinaan kelompok budidaya ini adalah masalah management. Jangan sampai program yang dilaksanakan ini berakhir percuma tanpa pembelajaran dan perkembangan apa-apa. Oleh karena itu setiap anggota harus mempunyai konsistensi dan ketegasan dalam mengikuti aturan yang telah disepakati bersama.

    Beliau menambahkan, Kelompok-kelompok yang telah diberi pengetahuan, keterampilan secara teknis dan managerial kelembagaan harus dapat memaksimalkan produktivitas, mengatur finansial kelompok dan mengelola resiko bisnis. Jangan hanya harus bisa bertahan, tetapi juga bisa mengembangkannya.

    Wakil Bupati OKI juga mengapresiasi PT Sampoerna Agro, Tbk yang telah membuktikan kepeduliannya terhadap masyarakat di sekitar Perusahaan, terutama dalam kondisi perekonomian yang tengah melambat.  “Kita berharap desa ini bisa menjadi kiblat dan rujukan orang untuk belajar budidaya jamur. Apalagi lokasi kegiatan dekat Pesantren, saatnya mencetak santri yang memiliki kecakapan wirausaha, sehingga setelah lulus mampu mandiri,” pungkasnya. (rico)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com