• Uji Coba Kia Di Sumbar Belum Maksimal      

    0

    Padang, jurnalsumatra.com – Pelaksanaan uji coba program Kartu Identitas Anak (KIA) di dua kota di Sumatera Barat, masing-masing Solok dan Padang Panjang, belum menunjukkan kemajuan yang maksimal, meski telah dimulai sejak April 2016.
    “Laporan resmi secara tertulis pada Pemerintah Provinsi Sumbar belum ada. Namun, informasinya, sekarang sudah dalam tahap pengumpulan data,” kata Kepala Biro Pemerintahan Sekretariat Provinsi Sumbar, Mardi di Padang, Kamis.
    Ia mengatakan, pelaksanaan program itu diserahkan sepenuhnya pada Solok dan Padang Panjang sebagai kota yang terpilih untuk uji coba.
    Dalam pelaksanaannya, program tersebut dibantu penganggaran dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) melalui dana tugas pembantuan. Namun, karena dana dari pusat itu juga mengalami pemotongan, maka daerah pelaksana program tidak dibebani target tertentu.
    “Tahap uji coba ini, kita berharap programnya berjalan dulu. Tidak ada target khusus bagi mereka, apalagi anggarannya yang dari pusat juga mengalami pemotongan,” ujar Mardi.
    Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Solok, Nova Elfino melalui sambungan telepon mengatakan, setelah pengumpulan data, maka program itu akan diluncurkan secara resmi.
    “Rencananya, 15 September 2016 kita luncurkan di kantor wali kota,” sebutnya.
    Berdasarkan Permendagri Nomor 02 Tahun 2016 tentang Kartu Identitas Anak, pada 2017 semua anak di Indonesia harus memiliki kartu identitas. Tujuannya untuk meningkatkan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik, serta sebagai upaya memberikan perlindungan dan pemenuhan hak konstitusional warga negara.
    KIA adalah identitas resmi anak sebagai bukti diri anak yang berusia kurang dari 17 tahun dan belum menikah, yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten/kota.
    Bentuk fisik Kartu Identitas Anak itu berwarna merah muda/pink.
    Nantinya, KIA ini akan digunakan untuk persyaratan mendaftar sekolah dan keperluan lain yang membutuhkan bukti diri anak, contohnya untuk data identitas membuka tabungan atau menabung di bank atau mendaftar BPJS.
    KIA juga bermanfaat untuk proses identifikasi jenazah dengan korban anak-anak dan juga untuk mengurus klaim santunan kematian, pembuatan dokumen keimigrasian dan mencegah terjadinya perdagangan anak.
    Dalam penerapannya, KIA dibedakan menjadi dua, yaitu untuk umur anak antara 0-5 tahun dan untuk umur anak 5-17 tahun. Perbedaannya adalah untuk KIA 0-5 tahun tanpa mengggunakan foto, sedangkan KIA usia 5-17 tahun kurang satu hari menggunakan foto.
    Mardi menyebutkan, syarat untuk membuat KIA anak 5-17 tahun adalah memiliki akta kelahiran, menyerahkan KTP orang tua, kartu keluarga (KK) dan melampirkan foto ukuran 2×3. Sementara untuk anak 0-5 tahun tidak menyertakan foto.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com