• TPHK Agam : Sapi Kurban Bebas Penyakit Menular

    0

         Lubuk Basung, Sumbar, jurnalsumatra.com – Tim Pemeriksaan Hewan Kurban (TPHK) Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), tidak menemukan sapi mengidap penyakit menular yang akan dipotong pada hari raya Idul Adha 1437 Hijriah.
    “Tidak ada satupun sapi yang mengidap penyakit menular seperti antraks, rabies dan lainnya. Artinya seluruh sapi layak dipotong saat Idul Adha,” kata Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Peternakan (Dispertahornag) Agam, Farid Muslim di Lubuk Basung, Sabtu.
    Ia mengemukakan, ini berdasarkan pemeriksaan sapi yang telah dilakukan di pasar ternak, pedagang sapi dan lainnya.
    Bagi sapi yang sehat ini, TPHK mengeluaran Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
    “Seluruh sapi yang telah diperiksa kami diberi SKKH. Kami akan melakukan pengawasan sampai pemotongan sapi di masjid dan mushala,” sebutnya.
    Selain tidak menemukan sapi mengidap penyakit menular, TPHK juga tidak menemukan sapi belum cukup umur, karena pihaknya telah memberikan sosialisasi kepada pedagang dan pemilik ternak agar tidak menjual sapi yang belum cukup umur.

         “Sosialisasi ini telah kita berikan beberapa minggu lalu kepada pedagang dan pemilik ternak,” lanjutnya.
    Saat ini, menurutnya, harga sapi kurban di Agam sekitar Rp13 juta sampai Rp15 juta per ekor.
    Pihaknya memprediksi sekitar 4.950 ekor sapi yang akan dipotong saat Idul Adha.
    Pemotongan sapi ini berkurang sekitar satu persen dibandingkan pada 2015, karena pada tahun lalu pemotongan sapi sebanyak 4.982 ekor.
    Berkurangnya jumlah pemotongan ini berdasarkan pemotongan setiap bulannya untuk kebutuhan warga, karena jumlah pemotongan pada tahun ini berkurang sekitar lima sampai 10 ekor setiap bulan dibandingkan 2015.
    “Ini disebabkan faktor ekonomi masyarakat di Kabupaten Agam melemah dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
    Anggota DPRD Agam, Noveri Edios mendukung pengawasan sapi yang mengidap penyakit menular yang dilakukan TPHK, sehingga tidak dikosumsi warga.
    Namun dia berharap dinas terkait untuk melakukan pengawasan penjualan sapi kurban sampai tingkat peternak yang ada di pelosok, sehingga tidak ada diperjual belikan sapi mengidap sakit menular, belum cukup umur dan betina produktif.
    “Ini harus dilakukan agar sapi yang dipotong sehat, cukup usia dan tidak produktif,” tambahnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com