• RRI Atambua Sediakan Program Gelorakan Nasionalisme Perbatasan

    0

         Kupang, jurnalsumatra.com – Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Atambua di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan wilayah perbatasan RI-Timor Leste menyediakan program gelora nasionalisme perbatasan.
    “Program itu dilakukan setiap harinya dengan memperdengarkan kumandang lagu Indonesia Raya di setiap pukul 17.00 WITA serta lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan, sebagai tanda hari ulang tahun Republik Indonesia,” kata Kepala Stasiun Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Atambua Muhammad Lahar Ridiarso dari Atambua, Sabtu.
    Lahar mengatakan hal itu menjawab eksistensi lembaga penyiaran publik itu di perbatasan RI-Timor Leste dalam menjaga dan merawat nasionalisme anak bangsa di sepanjang tapal batas negara dalam peringatan Hari Radio Indonesia yang jatuh pada Minggu 11 September 2016 besok.
    Mantan reporter yang sudah bertugas di Atambua selama tiga tahun empat bulan itu mengatakan, dengan memperdengarkan secara terus menerus lagu kebangsaan Indonesia Raya serta lagu-lagu perjuangan kepada publik warga tapal batas, diyakini akan mengingatkan kepada seluruh anak bangsa bahwa Indonesia adalah tanah tumpah darah yang satu.
    Dengan demikian, maka Indonesia yang satu dan jaya harus tetap ada dan tetap terjaga di setiap perbuatan dan tingkah laku anak bangsa di perbatasan dalam setiap kondisi apapun.
    Selain program tersebut, LPP RRI Atambua juga menyediakan program apreasiasi anak lintas batas yang dikhususkan untuk generasi muda bangsa di wilayah serambi negara itu, yang diharap tetap menjadi masa depan Indoensia  dengan bertanggung jawab dan setia kepada Pancasila dan NKRI.
    Dalam konteks itu, anak-anak diberikan ruang untuk mengekspresikan keindonesiaannya dari setiap wilayah yang meliputi Kabupaten Belu, Malaka dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sebagai kabupaten perbatasan dan terjangkau siaran RRI Atambua.
    Hal ini sangat mendapatkan sambutan dan apresiasi tersendiri untuk seluruh pendengar yang menjangkau juga hingga ke kepulauan Alor di Kabupaten Alor itu.

         Dari aspek keamanan di perbatasan, lanjut dia, RRI Atambua juga menyediakan durasi siaran dialog bersama aparat kepolisian perbatasan, TNI perbatasan juga Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Stagas Pamtas) RI-Timor Leste di dua sektor tersebut.
    Para aparat perbatasan itu menyampaikan sejumlah harapan akan kedamaian di perbatasan dengan tetap menjaga kemungkinan pelanggaran dan tindakan kejahatan di sepanjang tapal batas dua negara itu.
    “Kita yakini dengan dialog antarwarga dan pihak TNI dan polri di perbatasan melalui radio itulah akan terbangun sebuah komunikasi yang bersahabat untuk bersama-sama menjaga tapal batas negara ini,” katanya.
    Di bidang budaya, lanjut Lahar, RRI juga memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga dan melestarikan budaya di daerah itu, agar tetap terjaga dan menjadi kekayaan anak bangsa di daerah ini, dengan program musik Timor.
    Dengan program ini diharap agar seluruh warga terus menjaga dan merawat seluruh kebudayaan yang ada untuk menjadikannya sebagai sebuah kekayaan yang mempersatukan anak bangsa di daerah ini. “Karena hanya dengan seni dan budaya kita bisa disatukan,” katanya.
    Dia mengatakan, meski jangkauan siaran LPP RRI Atambua sudah melingkup empat kabupaten perbatasan dan daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) meliputi Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Alor, namun masih butuh tambahan kekuatan sarana dan prasarana untuk menjaga dan merawat nasionalisme perbatasan.
    Sistem jaringan satelit yang akan dimanfaatkan untuk memperlancar jaringan siaran gabungan bersama radio Timor Leste yang selama ini juga sudah dilakukan dengan durasi sebulan sekali itu, harus segera dilakukan.
    Hal itu untuk menjangkau cita-cita LPP RRI yaitu frekuensi RRI mengepung perbatasan bisa terwujudkan.
    “Saat ini RRI Atambua miliki kekuatan frekuensi 5 kilo dengan tiga programa masing-masing RRI Programa 1, Programa 3 dan programa budaya,” katanya.
    Dia meyakini dengan semangat kebangsaan yang terus digelorakan melalui siaran RRI Atambua yang menjangkau luas di empat kebupaten perbatasan dan daerah 3T itu, bisa menjadi bagian dari merengkuh semangat nasionalisme anak bangsa di daerah-daerah itu, bahwa Indonesia masih ada dan Indonesia masih jaya.
    “NKRI harga mati harus tetap ada di jiwa dan raga setiap anak bangsa di perbatasan,” kata Lahar Ridiarso.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com