• Ritual Jamasan Keris Sunan Kudus Masih Dilestarikan      

    0

    Kudus, jurnalsumatra.com – Ritual penjamasan keris peninggalan Sunan Kudus di kompleks Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Jawa Tengah, yang dilakukan setelah hari tasyrik hingga sekarang masih tetap dilestarikan.
    Hal itu terlihat di kompleks Makam Sunan Kudus, khususnya pada bangunan tajuk, depan pintu masuk makam, Senin pagi, digelar ritual penjamasan keris Kiai Cinthaka serta dua buah tombak yang juga peninggalan Sunan Kudus.
    Ritual penjamasan yang dimulai pukul 07.00 WIB diawali dengan ritual keagamaan dan doa bersama yang dipimpin oleh Kiai Hasan Fauzi.
    Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Muhammad Nadjib Hassan mengatakan bahwa ritual penjamasan pada tahun ini pelaksanaannya pada hari Senin (19/9) setelah hari tasyrik.
    Sebelum ritual penjamasan, terlebih dahulu ziarah ke Makam Sunan Kudus, kemudian petugas mengambil dan menurunkan keris Kiai Cinthaka yang berada di dalam peti pada bagian atas pendapa tajuk.
    Selanjutnya, keris disiram “banyu landa” atau air rendaman merang ketan hitam hingga tiga kali, kemudian membersihkannya dengan air jeruk nipis, lalu mengeringkannya dengan cara menjemur di atas sekam ketan hitam. Hal itu dilakukan oleh ahli penjamasan Haji Faqihuddin.
    Hal serupa juga dilakukan untuk dua mata tombak. Barang ini dibersihkan dengan merang ketan hitam, air jeruk nipis, lalu dikeringkan dengan sekam ketan hitam.
    Air jeruk nipis dipercaya dapat mencegah karat pada benda pusaka yang berumur ratusan tahun itu.
    Terkait dengan tidak adanya “kopok gajah” sebagai pengharum keris, dia menjelaskan bahwa pihaknya mendapatkan bahan tersebut secara khusus dari Keraton Surakarta. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, tidak menerima pasokan.
    “Ada usulan, saat menggelar ritual jamasan, perwakilan Keraton Surakarta diundang ke Kudus,” ujarnya.
    Usai prosesi penjamasan keris dan tombak, dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan menu khas “jajan pasar” dan nasi opor ayam.
    Hidangan nasi opor ayam sendiri baru berjalan sekitar belasan tahun yang lalu guna menghormati salah satu menu kesukaan Sunan Kudus.
    Meskipun ritual tersebut hanya mengundang kalangan tertentu, pihaknya juga mempersilakan masyarakat umum yang hendak menyaksikan ritual tersebut hadir.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com