• Proyek LRT Palembang PT Waskita Belum Dibayar

    0
    gambar-lrt-palembang

    Proyek LRT Palembang PT Waskita Belum Dibayar target untuk transportasi Asian Games diperkirakan tidak tercapai

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Proyek pembuatan Light Rail Transit (LRT) yang akan jadi second icon palembang setelah jembatan Ampera pelaksanaanya ternyata sarat dengan masalah, salah satu permasalahanya ternyata pekerjaan tersebut belum dibayar pemerintah.

    PT Waskita Karya (Persero) ditunjuk sebagai kontraktor proyek kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015 atau dikerjakan dengan kontrak lisan dari Presiden Jokowi.

    Waskita menggelontorkan dana talangan pembangunan proyek atau prefinancing sambil menunggu pembiayaan dari APBN tahun 2017 dan 2018. “Seluruhnya dibiayai Waskita dulu, menunggu APBN 2017 dan 2018, Pembayaran akan dibahas persisnya ada beberapa kali.

    Sampai hari ini saya belum terima pembayarannya,” tutur M. Choliq Direktur Utama Waskita kala itu di Palembang Kamis (18/8/2016).

    Choliq menyatakan total investasi pembangunan LRT Palembang mencapai Rp 11,4 triliun. PT Waskita diperkirakan telah menggelontorkan dana sebesar Rp. 1,25 triliun dengan perkiraan pembangunan proyek LRT Palembang yang sudah mencapai 11%.

    Penelusuran tim kepada sumber yang mengetahui proyek tersebut menyatakan pekerjaan proyek LRT Musi akan bernasib sama seperti monorel DKI yang dinyatakan Ahok monument batu nisan lantaran proyek monorel tersebut mandek, hanya terlihat tiang-tiang pancangnya di jalan-jalan.

    Karena pendanaan proyek LRT Palembang tidak termasuk dalam penyertaan modal negara (PMN) yang dikucurkan kepada Waskita Karya senilai Rp. 3,5 triliun, maka mau tidak mau perseroan harus menempuh pendanaan lain yakni dari pinjaman perbankan. “Ini adalah proyek pertama kami yang menggunakan kontrak khusus, tidak pakai PMN,” pungkas Choliq.

    Sementara itu Menteri keuangan “Sri Mulyani” memotong anggaran Kementerian Perhubungan mencapai lebih dari Rp. 4 trilyun. Lalu sumber pendanaan pembangunan LRT Sumsel oleh PT Waskita Karya gelap.

    Disinyalir PT Waskita Karya menggunakan pinjaman bank untuk membiayai proyek LRT ini dengan menggadaikan aset –aset PT Waskita Karya. Bila memang Waskita meminjam dari konsorsium perbankan untuk pembiayaan proyek LRT Sumsel maka patut diduga terjadi mark up perhitungan anggaran pembiayaan proyek.

     Sedangkan keuntungan yang diambil perusahaan pelat merah dari proyek ini sebesar 10% atau Rp. 1,14 triliun dimana seluruh pembiyaan proyek LRT Palembang menggunakan dana internal perseroan.

     “Tadi kan anda bisa mengira-ngira bobotnya baru 11%. Nilai kontraknya Rp. 11,4 triliun total, sehingga prestasinya 11% kali Rp. 11,4 triliun. Biaya berapa? Kalau untungnya 10%, ya berarti dikalikan 90% tinggal untungnya berapa,” jelas Choliq. kala itu di Palembang Kamis (18/8/2016).

    Perhitungan anggaran pelaksanaan proyek pemerintah tidak boleh memperhitungan biaya bunga bank kecuali proyek tersebut proyek investasi (dibiayai investor dengan perjanjian khusus). Diduga dalam perhitungan pembiayaan pelaksanaan pekerjaan proyek LRT Musi, perencana Rencana anggaran Pembiayaan (RAB) diduga telah ditipi pesan untuk menambah biaya pembayaran bunga kridit perbankan.

    Di khawatirkan tidak hanya biaya bunga perbankan yang di masukkan dalam RAB pembangunan LRT Sumsel namun juga biaya –biaya siluman yang diduga/ disinyalir di titipkan untuk kepentingan politis dan biaya untuk meloloskan persetujuan DPR RI.(***)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com