• Perbaikan Sungai Keakwa Ditargetkan Tuntas Oktober

    0

         Timika, jurnalsumatra.com – Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kabupaten Mimika, Papua, menargetkan perbaikan alur Sungai Keakwa rampung pada Oktober mendatang.
    Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pengerukan Sungai Keakwa Jefri Pawara di Timika, Rabu, mengatakan bahwa alur Sungai Keakwa yang dilakukan perbaikan dan pengerukan sepanjang 650 meter dari sebelumnya sepanjang 1,7 kilometer.
    Kegiatan itu dalam rangka memperlancar arus transportasi masyarakat yang menggunakan perahu motor ke wilayah Mimika Barat.
    “Sesuai dengan kontrak, pekerjaan harus tuntas pada pertengahan Oktober. Namun, kami memprediksi pekerjaan bisa rampung lebih awal, itu sudah termasuk dengan pemasangan geotextil (semacam terpal textil untuk menahan lumpur),” jelas Jefri.
    Untuk melakukan pekerjaan tersebut, pihak kontraktor pelaksana menggunakan dua ekskavator, salah satunya ekskavator amfibi.
    “Pekerjaan ini harus menggunakan ekskavator amfibi mengingat kondisi sungai yang berlumpur dengan tingkat pasang surut yang sangat tinggi,” ujar Jefri.
    Program perbaikan alur sungai di wilayah pesisir Mimika telah dirintis sejak 2015.
    Tahap awal, alur sungai yang diperbaiki, yaitu alur Sungai Ipa yang menghubungkan Atuka, Ibu Kota Distrik Mimika Tengah ke Kampung Timika Pantai. Alur Sungai Ipa tersebut diperpendek yang awalnya sekitar 2,1 kilometer hingga menjadi 1,1 kilometer. Tidak hanya memperpendek alur sungai tersebut, Dishubkominfo juga memperlebar alur sungai tersebut ke sisi kiri dan kanan sungai hingga 15 s.d. 25 meter dengan kedalaman dari titik terendah saat surut minimal 3 meter.

         Kepala Dishubkominfo Mimika John Rettob mengatakan bahwa program perbaikan alur sungai di pesisir Mimika lantaran sungai-sungai tersebut mengalami pendangkalan sehingga tidak bisa dilayari perahu motor milik masyarakat, terutama saat surut.
    Kondisi itu sangat merugikan masyarakat yang hendak bepergian dari Timika ke kampung-kampung di wilayah pesisir atau sebaliknya, serta menghambat aktivitas perekonomian masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari mata pencaharian menangkap ikan, mencari kepiting, dan hasil sungai-laut lainnya.
    “Mudah-mudahan ini bisa membantu masyarakat di wilayah pesisir. Kami berharap mudah-mudahan tahun berikutnya Pemkab Mimika menganggarkan kembali dana untuk perbaikan alur sungai dari Keakwa ke Kokonao (Ibu Kota Distrik Mimika Barat),” ujarnya.
    Ia mengatakan bahwa kondisi pasang-surut di kampung-kampung wilayah pesisir Mimika relatif sangat tinggi, apalagi kampung-kampung tersebut berada pada daerah delta yang dikelilingi sungai.
    Akibat dari kondisi itu, jadwal keberangkatan warga dari dan ke wilayah pesisir Mimika Barat selalu tidak jelas karena menunggu air pasang. Tidak itu saja, biaya transportasi warga ke wilayah pesisir juga ikut membengkak.
    “Untuk bisa sampai ke Kokonao saja, warga harus mengeluarkan biaya hingga Rp5 juta. Padahal, jarak dari Timika tidak terlalu jauh,” kata John.
    Mengingat biaya perbaikan alur sungai-sungai yang menjadi urat nadi perhubungan ke wilayah pesisir Mimika tersebut relatif sangat mahal, pemkab setempat meminta dukungan dari pemerintah pusat dan Pemprov Papua untuk menuntaskan pekerjaan tersebut.
    “Pekerjaan ini memang membutuhkan biaya yang sangat mahal. Hal ini risiko kalau kita mau memperbaiki pelayanan kepada masyarakat. Makanya, pekerjaan ini harus menggunakan sistem keroyokan. Kita akan minta dukungan dari pusat, provinsi, bahkan PT Freeport Indonesia,” kata John Rettob.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com