• Penyembelihan Hewan Kurban Betina Produktif Masih Tinggi

    0

    Padang Aro, jurnalsumatra.com – Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, menyebutkan penyembelihan hewan betina produktif untuk kurban di daerah itu masih tinggi sehingga perlu ditingkatkan sosialisasi.
    Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Solok Selatan, Yuherdi di Padang Aro, Sabtu, menyebutkan sesuai data penyembelihan hewan kurban pada 2014 dari 1.009 hewan kurban berupa sapi 903 ekor, kerbau sembilan ekor dan kambing 97 ekor, sebanyak 634 ekor merupakan hewan betina produktif.
    Kecamatan yang tertinggi penyembelihan hewan kurban betina produktif adalah Sungai Pagu yang mencapai 302 ekor. Sedang di Sangir Balai Janggo dan Sangir Batang Hari nihil, katanya.
    Jumlah penyembelihan hewan kurban betina produktif tersebut, katanya menambahkan, meningkat jika dibanding tahun 2013 yang berjumlah 440 ekor dari 935 ekor hewan kurban yang meliputi 851 ekor sapi, enam ekor kerbau dan 78 ekor kambing.
    Terkait tinggi penyembelihan hewan betina produktif ini, sebutnya, pihaknya akan meningkatkan sosialisasi kepada panitia kurban serta pengurus masjid. Karena penyembelihan hewan ternak betina produktif dilarang oleh Undang-Undang No. 18 Tahun 2009.
    “Kami akan fokuskan ke kecamatan yang tinggi jumlah hewan kurban betinanya. Kemudian secara bergiliran sampai seluruh kecamatan,” katanya.
    Ia mengungkapkan, kecenderungan panitia kurban menyembelih hewan betina karena lebih murah dibanding dengan jantan. “Semata ini hanya faktor harga saja karena betina lebih murah,” katanya.
    Sementara terkait pengawasan kesehatan hewan kurban, katanya, pihaknya akan mengerahkan dokter hewan dan petugas paramedis untuk memeriksa kesehatan hewan kurban pada H-1.
    Solok Selatan memiliki tiga pusat kesehatan hewan (Puskeswan), yakni Puskeswan Pakan Selatan dengan wilayah kerja tiga kecamatan meliputi Kecamatan Pauh Duo, Sungai Pagu dan Koto Parik Gadang Diateh.
    Kemudian Puskeswan Padang Aro dengan cakupan wilayah Kecamatan Sangir dan Sangir Jujuan. Kemudian Puskeswan Sungai Gading untuk Kecamatan Sangir Balai Janggo dan Sangir Batang Hari.
    Selain itu, imbuhnya, pihaknya meminta kepada panitia kurban atau pengurus masjid agar meminta surat kesehatan ketika membeli hewan kurban. “Kalau beli di pasar ternak pasti ada surat kesehatannya. Yang perlu diantisipasi adalah yang memesan ke tauke atau pedagang langsung,” katanya.
    Ia menyebutkan, pada pemeriksaan kesehatan hewan kurban tahun lalu tidak ditemukan penyakit yang membahayakan bagi kesehatan manusia. “Memang ada ditemukan cacing, tapi bukan cacing hati dan itu bisa dibersihkan. Juga tidak membahayakan bagi kesehatan manusia,” katanya.
    Ia menyebutkan, mayoritas hewan kurban yang digunakan oleh masyarakat Solok Selatan merupakan sapi atau kambing lokal. “Memang ada yang selain sapi lokal, tapi itu tidak seberapa. Biasanya kurban secara pribadi,” katanya.
    Seorang warga Sungai Pagu, Afrianto, mengharapkan dokter hewan atau paramedis tidak hanya melakukan pemeriksaan pada H-1 Idul Adha karena panitia kurban biasanya mendatangkan hewan dua atau tiga hari sebelum disembelih.
    “Dengan wilayah yang luas dan jumlah hewan kurban yang banyak bisa dipastikan semua tidak akan terpantau oleh dokter hewan atau paramedis,” katanya.
    Hal ini, katanya, untuk memastikan bahwa hewan yang disembelih tersebut layak untuk dikonsumsi.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com