• Pendidikan Kebangsaan Harus Ditekankan Di Sekolah

    0

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Pengamat pendidikan Darmaningtyas  mengatakan pendidikan kebangsaan harus kembali ditekankan di sekolah-sekolah formal agar nilai-nilai itu tetap terjaga di kalangan generasi muda.
    Menurut Darmaningtyas, pendidikan kebangsaan tidak harus diwujudkan secara terbuka di dalam kurikulum, tetapi bisa juga secara terselubung (hidden curriculum), misal melalui upacara bendera setiap Senin.
    “Ketika siswa menghormati bendera, mengheningkan cipta, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, mereka belajar tentang bagaimana menghargai sejarah bangsanya,” kata Darmaningtyas di Jakarta, Kamis.
    Menurut dia, kurikulum terselubung justru lebih gampang meresap di benak para siswa dibanding kurikulum formal yang diajarkan. Yang juga termasuk dalam kurikulum terselubung antara lain nilai-nilai sopan santun dan cinta tanah air.
    Ia mengatakan pendidikan kebangsaan ditambah pengajaran tentang nilai-nilai pluralisme saat ini penting dilakukan mengingat ada kecenderungan anak-anak remaja untuk menaruh perhatian pada paham radikal.
    Kecenderungan radikalisme kalangan remaja pelajar sekolah antara lain ditunjukkan hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) pada April 2011 dan survei Maarif Institute pada akhir 2015.
    Menurut Darmaningtyas, hal itu terkait dengan pola pendidikan formal yang sangat terbuka dan  sekolah-sekolah, terutama sekolah swasta baru, yang kian minim memberikan pendidikan kebangsaan kepada para siswa.
    “Mereka justru memberikan pemahaman yang sesuai dengan keyakinan atau pemahaman pendiri atau pemilik sekolah. Pemahaman pemilik sekolah itu kadang tidak berakar dari kondisi Indonesia yang pluralis dan mengandung hal-hal yang berbau radikal, meski tidak semua seperti itu,” katanya.
    Menurut Darmaningtyas, perlu ada ketegasan dari pemerintah terhadap pengajaran radikalisme di sekolah dan imbauan kepada sekolah untuk mengajarkan kembali kurikulum terselubung yang sesuai dengan pandangan Indonesia agar siswa bisa lebih menghargai sejarah dan berbagai perbedaan di Indonesia.
    “Siswa yang mendapat pendidikan kebangsaan yang cukup dan memahami pluralisme dengan baik akan bertanya kepada orang tua atau guru jika mereka mendapat paham radikal dari sekelilingnya. Setidaknya mereka punya ‘early warning’ terhadap paham itu,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com