• Panpel Libatkan Teknisi Asing Untuk Jaga Netralitas

    0

        Ciamis, jurnalsumatra.com – Untuk meminimalisir kesalahan pecatatan waktu dan menjaga netralitas, panitia penyelenggara (panpel) Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX, khususnya cabang olahraga balap sepeda melibatkan teknisi asing yang kemampuannya sudah diakui internasional.
    “Kami tidak main-main untuk mempersiapkan kejuaraan ini. Demi menekan kesalahan, kami mendatangkan teknisi khusus untuk pencatatan waktu dari Hongkong. Ini kami lakukan untuk kebaikan kita semua,” kata Ketua Panpel Balap Sepeda, Ato Hermanto di Ciamis, Sabtu.
    Untuk mendatangkan teknisi pencatatan waktu balapan tersebut, kata dia, membutuhkan dana kurang lebih Rp300 juta. Masalah biaya dinilai tidak menjadi kendala karena pihaknya tidak ingin olahraga yang menjunjung sportivitas itu bakal ternoda.
    “Kita ingin semuanya ‘ngahiji’. Kita harus mengutamakan persatuan. Inikan olahraga, semuanya harus sportif. Sebenarnya kami bisa menyediakan teknisi yang murah. Tapi rawan, demi sportifitas kami memilih menggunakan pihak netral,” kata pria yang juga Ketua ISSI Jawa Barat ini.
    Sejak MTB, pencatatan waktu menggunakan sistem digital dengan memasang transponder di masing-masing sepeda. Dengan demikian pencatatan waktu lebih akurat dibandingkan dengan stopwatch seperti yang di sepeda roda yang akhirnya menjadi pemicu polemik bagi peserta.

        Tidak hanya MTB atau sepeda gunung, transponder juga dipasangan di sepada pada nomor downhill road race, track hingga BMX. Dengan demikian, cabang olahraga balap sepeda diprediksi menjadi bakal minim polemik terutama dalam pencatatan waktu.
    “Track akan lebih bahaya jika tidak menggunakan transponder. Selisih waktu antar pebalap bakal tipis. Kalau menggunakan stopwatch akan subyektif dan bakal memunculkan ketidakpuasan peserta yang akan berujung pada protes,” kata salah satu pengusaha dodol Garut itu.
    Apa yang dilakukan penpel PON 2016 sangat diapresiasi PB ISSI. Sang ketua, Raja Sapta Oktohari mengatakan, inilah salah satu cara membuktikan jika cabang olahraga balap sepeda sangat profesional dalam menggelar sebuah perlombaan. Pada dasarnya olahraga adalah menjunjung sportivitas.
    “Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan panpel dan ISSI Jawa Barat. Mereka bekerja sesuai dengan jalur yang benar dan berusaha untuk menggelar kejuaraan seprofesional mungkin,” katanya.
    Tidak hanya mengapresiasi masalah penggunaan alat moderen dalam pencatatan waktu, PB ISSI juga mengapresiasi sistem keamanan selama perlombaan berlangsung terutama di nomor road race. Di nomor ini harus melibatkan banyak pihak mulai kepolisian, Dinas Perhubungan maupun pemerintah daerah yang dilewati balapan.
    “Seperti road race. Sejak dilepas di Kota Baru Parahyangan terus melewati Purwakarta, Subang dan masuk Bandung Barat, jalanan benar-benar steril. Ini menunjukkan persiapan yang dilakukan sangat baik. Begitu juga penontonnya. Luar biasa. Kita harus bisa menunjukkan jika balap sepeda bebas dari rekayasa,” kata pria yang akrab dipanggil Okto itu.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com