• Museum Sultra Diminta Tingkatkan Kegiatan Inovatif      

    0

    Kendari,jurnalsumatra.com – Legislator Sulawesi Tenggara meminta pengelola museum, yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra, terus meningkatkan kegiatan kreatif dan inovatif untuk lebih menarik minat masyarakat.
    “Harusnya setiap pengelola museum berinovasi membuat kegiatan-kegiatan baru yang mampu menarik kunjungan saat datang di museum,” kata Ketua Komisi IV DPRD Sultra Yaudu Salam Ajo di Kendari, Selasa.
    Ia mengatakan untuk menjadikan museum sebagai tujuan wisata menarik yang tidak hanya bagi para pelajar dan mahasiswa untuk bahan pelajaran dan pengetahuan mereka, maka pengelola sebaiknya tidak hanya mengandalkan koleksi yang ada.
    Tetapi, sebaiknya bila ada kegiatan tahunan di luar daerah wajib untuk ikut dalam mempromosikan koleksi-koleksi yang dimiliki, sehingga masyarakat tahu bahwa koleksi sejarah maupun etnografi yang dimiliki museum bisa lebih disukai dan dicari pengunjung.
    Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera itu, hingga saat ini belum banyak museum yang berani mengadakan kegiatan tahunan secara inovatif.
    Ia menyarankan, untuk memperkenalkan lebih jauh dari koleksi yang dimiliki museum Sultra maka harus banyak promosi dan ikut pameran yang berskala nasional.
    “Memang harus diakui bahwa hambatan dari museum yang dialami selama ini biasanya terkait dengan persoalan dana yang terbatas dikucurkan baik melalui APBD maupun APBN,” ujaranya.
    Nasib museum di Indonesia nyaris sama dan seragam, yakni koleksinya melimpah namun miskin kunjungan.
    Hal seperti ini juga dialami museum di Sultra, kata Muhammad Akib, tokoh masyarakat dan budaya di Kendari,
    Museum Sultra saat ini memiliki lebih 5.000-an benda koleksi tapi yang dipajang hanya berkisar 200-300 koleksi, karena keterbatasan lahan juga anggaran untuk penataan yang lebih menarik.
    Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Teknis UPTD Museum Sultra Rustam Tombili mengatakan dalam museum Sultra terdapat 10 jenis koleksi yakni geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika atau heraldika, filologika, keramika, seni rupa, dan teknologika.
    “Dan koleksi tertua di museum ini adalah keramik Tiongkok dari zaman Dinasti Sung abad XII,” ujaranya.
    Selain itu, Al Quran dengan tulisan tangan yang ditemukan di masjid tua Kabuapaten Muna, namun tidak diketahui tahun penulisannya.
    Juga tempat makam prasejarah yang disebut Seronga atau runi berupa peti jenazah berukir, mirip yang terdapat di kuburan batu etnis Toraja di Sulawesi Selatan.
    Ada dua peti mati, satu berukuran besar yang dipakai untuk mayat yang baru meninggal dan satu peti mati berukuran kecil untuk menyimpan tulang-tulang setelah diambil dari peti mati ukuran besar, dan kedua Saronga itu ditemukan di dalam gua di Kabupaten Kolaka.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com