• Memberikan jaminan kesehatan bagi ibu hamil

    0

    Palembang ,jurnalsumatra.com- Menikah, hamil, kemudian melahirkan adalah suatu fase ideal yang dilewati perempuan ketika sudah berkeluarga.

     

    Meski tahapan ini sudah diketahui, tapi tidak setiap keluarga memiliki persiapan yang matang dalam menyambut kehadiran sang buah hati.

     

    Tak terkecuali, keluarga Ludwi Khardani (41) dalam menyambut kehadiran anak kedua mereka yang berjarak 10 tahun dari kelahiran anak pertama.

     

    “Saya ingat betul waktu itu, ekonomi keluarga lagi sulit, suami hanya pelayan restoran bergaji Rp1,2 juta per bulan, tinggal saja masih menumpang di rumah mertua. Sementara saya hanya ibu rumah tangga. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, apalagi untuk biaya melahirkan,” kata Lilis Suryani (33), istri dari Ludwi yang dijumpai dikediaman orangtua mereka di kawasan Makrayu, Palembang, Kamis (15/10).

     

    Lantaran kondisi itu, Lilis mulai mencari tahu mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ia belum paham, apakah BPJS akan menjamin biaya persalinan.

     

    “Saya tanya-tanya, dan ternyata dijamin. Jadi saya putuskan bersama suami untuk menjadi peserta, dengan harapan saat melahirkan tiba sudah tenang, tidak lagi hutang sana-sini. Tinggal mengencangkan ikat pinggang saja, untuk berhemat supaya bisa bayar iuran per bulan,” ujar mantan pelayan toko pakaian ini.

     

    Awalnya, hanya Lilis yang akan didaftarkan saat usia kandungan menginjak satu bulan.

     

    Lantaran formulir mencantumkan kolom yang harus diisi untuk suami dan anak maka seluruh anggota keluarga turut didaftarkan pula.

     

    “Saya juga tidak begitu paham waktu itu, yang jelas dapat formulir seperti itu, jadi diisi semua. Mulailah, saya, suami, dan anak menjadi peserta dengan iuran Rp59 ribu per bulan untuk per orangnya, dibayar melalui transfer atm,” kata dia.

     

    Setelah menjadi peserta BPJS, Lilis merasa ringan dalam menjalani proses kehamilan meski waktu itu sudah berusia tidak muda yakni 32 tahun.

     

    Untuk menjaga kesehatan bayi, ia secara rutin memeriksakan kandungan di puskesmas yang masuk dalam fasilitas kesehatan tingkat pertama BPJS. “Semua gratis, tidak keluar biaya,” kata dia.

     

    Menjelang masa melahirkan, Lilis rutin setiap dua hari sekali memeriksakan kehamilan dan berdasarkan diagnosa dokter harus dilakukan persalinan secara operasi.

     

    “Awalnya sama sekali tidak ada masalah dengan kehamilan saya, tapi hingga waktunya tiba, justru tidak kunjung kontraksi, sehingga harus dioperasi. Waktu mendengar operasi caesar, saya langsung terkejut karena memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan,” kata dia.

     

    Ia khawatir karena RS AK Gani yang dipilih sebagai tempat bersalin telah mematok biaya Rp25 juta untuk operasi caesar.

     

    “Bersyukur sekali ternyata semua dilindungi BPJS asalkan tindakan medis tersebut bukan permintaan peserta tapi atas rekomendasi dokter. Sehingga saya lepas dari masalah,” kenang Lilis.

     

    Lilis mengatakan tidak pernah melupakan masa itu, karena sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk biaya operasi.

     

    “Jika dihitung-hitung, cuma mengeluarkan uang Rp200 ribu untuk membeli plester yang akan dipasang di perut. Itu saja, selebihnya tidak ada lagi, dan dua hari setelah melahirkan saya sudah boleh pulang, jadi benar-benar mudah ketika itu,” kata dia.

     

    Kebahagiaannya itu, kemudian diwujudkan keluarga ini dengan memberikan nama bagi buah hatinya yang lahir pada 17 September 2014 itu, Azzalea Delisha Airis yang mengandung arti, tanaman langkah di padang pasir.

     

    “Saya bersyukur sekali tidak mendapatkan masalah, jika saya tidak menjadi peserta BJPS mungkin hingga kini masih terlilit utang. Saking saya merasa ini suatu yang langkah jadi memberi nama anak Azzalea,” kata dia.

     

    Kisah bahagia serupa juga dialami keluarga Haris Suprapto (29) yang dikaruniai putri pertama Kirana Aisyahra Suprapto pada 2 Juli 2015 melalui operasi caesar.

     

    Istri tercinta Astri Ramadini (25) diputuskan tim dokter menjalani operasi untuk bersalin karena memiliki kelainan tekanan darah.

     

    “Sama sekali tidak mengeluarkan biaya meski melahirkan secara operasi,” kata Haris yang berprofesi sebagai karyawan swasta ini.

     

    Ia bersyukur karena perusahaannya memiliki kepedulian terhadap jaminan kesehatan karyawannya sehingga mendapatkan kemudahan saat menjalani proses kehamilan hingga persalinan.

     

    “Saat hamil sudah memanfaatkan kartu BPJS untuk kontrol di dokter praktek di Klinik Amalia, Plaju, sebagai fasilitas kesehatan tahap pertamanya,” kata dia.

     

    Kemudian, setelah menjelang kelahiran, istri saya dirujuk klinik ke RS Bersalin YK Mandiri Palembang karena ada persoalan tekanan darah.

     

    “Dokter sendiri yang merekomendasikan untuk operasi, sehingga operasi dilakukan dengan tetap dijamin BPJS,” ujar warga Jalan Tembok Baru, Lorong Bersama, Kelurahan 11 Ulu ini.

     

    Ia mengatakan, tidak menemukan kendala berarti dalam proses administrasi dan pelayanan, bahkan saat pengurusan kepesertaan baru bagi putri pertamanya itu.

     

    “Setelah dilahirkan, pihak rumah sakit langsung mengeluarkan surat rekomendasi untuk diurus di BPJS sebagai peserta baru, dan dalam 14 hari harus diselesaikan. Kini anak saya juga menjadi peserta BPJS,” ujar dia.

     

    Tetap bahagia

     

    Menjaga ibu tetap bahagia selama kehamilan ternyata sangat penting untuk perkembangan anak di masa yang akan datang.

     

    Dokter Spesialis Anak Tumbuh Kembang, Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si mengatakan suasana hati seorang ibu selama hamil rupanya berpengaruh pada karakter sang anak kelak.

     

    “Tempramen anak itu dibentuk sejak berada di dalam kandungan, jadi kalau selama hamil ibu ‘happy’, maka anak akan lahir dan tumbuh menjadi anak yang ‘happy’ karena saat ibu hamil bahagia, dia akan mengeluarkan hormon-hormon yang disalurkan ke plasenta dan kemudian ditangkap oleh syaraf-syaraf otak janin. Kalau yang ditangkap hormon bahagia maka bayi akan jauh lebih sensitif pada perasaan gembira,” kata dr. Soedjatmiko di Jakarta, Sabtu (30/5).

     

    Sebaliknya, jika ibu tidak bahagia saat masa kehamilan maka akan melahirkan anak rewel, gelisah, pencemas, sangat pendiam, atau bahkan mudah tantrum.

     

    “Kalau ibu hamil ngedumel terus, maka bayi akan lebih sensitif pada rasa-rasa yang negatif. Oleh sebab itu, selama masa kehamilan sangat dianjurkan untuk menyenangkan para ibu hamil,” kata dia.

     

    Psikolog Ratih Andjayani Ibrahim, MM,Psi mengatakan, pada saat ibu sedang hamil, peran ayah sangat penting untuk ikut meringankan beban ibu hamil dan membuatnya serileks mungkin.

     

    “Jadi ibu hamil harus terus didampingi, diberikan jaminan berupa ketenangan saat menghadapi persalinan. Jika ini yang terjadi maka akan berdampak sekali pada kecerdasan emosional anak,” kata Ratih.

     

    Sementara itu, Kepala Divre III BPJS Kesehatan Handaryo di Palembang, beberapa waktu lalu, mengatakan, adanya jaminan kesehatan saat melahirkan tak jarang menjadi alasan utama sebuah keluarga ketika memutuskan menjadi peserta.

     

    “Bukan suatu yang mengherankan saat ini, banyak yang menjadi peserta saat sedang hamil. Bagi BPJS ini tidak menjadi masalah, karena target akhirnya memang seluruh warga harus dilindungi kesehatannya oleh suatu badan penyelenggara, dalam hal ini BPJS Kesehatan,” kata dia.

     

    Lantaran ingin mencapai target tersebut, kini BPJS lebih fokus membidik kelompok pekerja penerima upah untuk mencapai target finalisasi kepersertaan pada 2019.

     

    Menurutnya, hal ini sesuai dengan prinsip gotong-royong dalam penyelenggaraan jaminan sosial.

     

    “Prinsipnya yang kuat membantu yang lemah, itulah mengapa fokus BPJS pada tahun ini dan mendatang adalah menggaet sebanyak-banyaknya peserta dari pekerja menerima upah,” ujar Handarnyo.

     

    Ia mengatakan, sejauh ini, BPJS Divre III yang membawahi provinsi Sumsel, Bangka Belitung, Lampung, dan Bengkulu belum mencapai target kepesertaan untuk kategori pekerja penerima upah pada tahun 2014.

     

    Pada tahun lalu hanya terealisasi 92 persen dari target 526.225.

     

    Namun, dikategori pekerja bukan penerima upah (pekerja informal) justru melampaui target hingga 141 persen atau terealisasi sebanyak 642.097 orang dari target 454.661 orang.

     

    “Kesadaran masyarakat dari golongan tak mampu demikian tinggi untuk bergabung dengan BPJS Kesehatan karena mereka menyadari betapa sulitnya jika menderita sakit tapi tidak ada yang melindungi,” kata dia.

     

    Terkait dengan penyebab kalangan pekerja formal belum banyak bergabung dengan BPJS Kesehatan menurutnya terdapat beberapa faktor, di antaranya, keinginan mendapatkan manfaat lebih karena selama ini bekerja sama dengan perusahaan asuransi.

     

    “Semisal, selama ini sudah mendapatkan pelayanan kelas III, lantas setelah bergabung dengan BPJS bagaimana penyesuaiannya, ada juga yang ingin tetap mengaktifkan klinik kesehatan yang dimiliki. Namun, pada prinsipnya, BPJS sudah menemukan pola agar semua pekerja swasta bisa bergabung,” kata dia.

     

    Anak adalah anugerah, yang merupakan harapan masa depan. Anak juga sebuah amanah dan tanggung jawab, yang sekaligus potret keberhasilan orangtua.

     

    Sudah saatnya, anak-anak yang terlahir di Bumi Pertiwi mendapatkan jaminan kesehatan mulai dari kandungan hingga dilahirkan, mulai dari balita hingga tumbuh menjadi manusia dewasa sehingga negara ini mendapatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com