• Kriswandoyo Semangat Bina Pedansa Muda    

    0

    Bandung, jurnalsumatra.com – Kriswandoyo, mantan atlet nasional dansa yang memutuskan tidak lagi turun di PON karena sejak empat tahun lalu memilih kelas profesional.
    Setiap tahun, atlet kelahiran Semarang, 27 Oktober 1975 ini bertanding di luar negeri 5-6 kali dalam satu tahun bersama pasangannya yang juga telah menjadi istrinya.
    Meski demikian, atlet yang memperkuat Indonesia di dua kali SEA Games yakni tahun 2005 dan 2007 ini masih peduli dengan perkembangan olahraga dansa Tanah Air.
    Hingga kini, kontestan Blackpool Dance Festival London 2016 ini masih meluangkan waktu untuk melatih pendansa muda usia dibawah 14 tahun disela-sela kesibukan latihannya 5-6 jam setiap hari.
    “Saya melatih atlet-atlet muda di Yogyakarta, saya lihat beberapa diantaranya ada yang berbakat dan memiliki minat menjadi pedansa,” kata Kriswandoyo.
    Menurutnya, ini suatu pencapaian baik karena jika merujuk pada satu dekade lalu, peminat dansa sebagian besar berasal dari kalangan usia dewasa hingga lanjut.
    Pada saat Kriswandoyo mulai menggeluti dansa pada 1999, ia hampir tidak menemukan ada atlet dansa dibawah usia 17 tahun.
    “Namun sekarang lihat sendiri, di PON Jabar ini ada satu pasang peserta yang usianya baru 14 tahun. Ini suatu kabar gembira yang patut disyukuri,” kata dia.
    Ia tidak menapik bahwa Indonesia masih tertinggal pada cabang olahraga dancesport jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara.
    Hal ini lantaran, budaya masyarakat yang masih menilai negatif olahraga dansa karena pakaian sexy dan gerakannya yang dipandang vulgar.
    “Inilah yang selalu menjadi persoalan, sehingga perkembangan olahraga dansa di Indonesia cenderung lambat,” kata finalis nomor latin SEA Games 2005 ini.
    Namun, satu dekade terakhir, ia menilai perkembangan dancesport mulai pesat bahkan dapat dijadikan tempat untuk menggantungkan hidup bagi sebagian orang.
    Apalagi bagi mereka yang bukan hanya pasangan di lantai dansa tapi sudah menjadi pasangan sebenarnya (suami-istri).
    “Saat ini pelatih dansa dibayar Rp200 ribu/jam, jika mereka punya 3-5 murid saja, maka sudah bisa mencukupi kebutuhan. Tarif ini akan beda lagi bagi mereka yang sudah juara,” kata dia.
    Cabang olahraga dansa dengan induk olahraga Ikatan Olahraga Dansa Indonesia pertama kali dipertandingkan di PON saat perhelatan di Kalimantan Timur tahun 2008 sebagai pertandingan ekshibisi.
    Kemudian pada PON di Riau tahun 2012, cabang olahraga ini tidak dipertandingkan dengan alasan kurang sesuai dengan budaya setempat.
    Cabang olahraga yang memiliki induk Ikatan Olahraga Dansa Indonesia ini baru dipertandingkan kembali di PON Jawa Barat meski dengan perubahan nama menjadi dancesport.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com