• KONI Aceh Ajukan Protes Final LUG Drumband

    0

        Bogor, jurnalsumatra.com – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Aceh mengajukan protes terkait final Lomba Unjuk Gelar (LUG) cabang Drumband PON XIX/2016.
    “Hari ini kami sampaikan surat protes yang kami tujukan ke PB PON XIX Jawa Barat dan ditembuskan ke KONI, juga ke Sub PB PON XIX Drumband,” kata Sekretaris Umum KONI Aceh, M Nasir, di Bogor, Sabtu.
    Sebelumnya, manager dan KONI Aceh melakukan protes pada saat pengalungan medali final LUG di Gedung Kesenian, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat malam.
    Aksi protes tersebut membuat upacara pengalungan medali menjadi bubar dan tanpa ada penghormatan kepada para pemenangan.

        Pada final LUG Aceh harus puas berbagi perak dengan tuan rumah Jawa Barat, sementara emas diraih Provinsi Banten dan perunggu disabet DKI Jakarta.
    “Kita semua melihat penampilan empat provinsi di final kemarin. Hasil Aceh terbaik, liat teman-teman teknik, penjurian, emas harusnya untuk Aceh,” katanya.
    Tapi, lanjut Nasir, Banten tampil menjadi juara dan meraih emas, sehingga banyak pihak terutama dari Aceh menilai ada ketidaktransparanan dalam penjurian.
    “Padahal dalam penampilannya Banten banyak melakukan kesalahan properti tidak jelas, kok bisa jadi juara,” kata Nasir.
    Nasir mempertanyakan apa yang menjadi dasar penilaian juri dan hakim hingga memenangkan Banten.
    “Apa karena Banten pernah juara di tingkat internasional dengan tema yang dibawakannya di final ini,” katanya.

        Menurutnya, tidak ada kejelasakan dalam materi penjurian, teknik penjurian serta indikator juga tidak jelas.
    “Anehnya setiap habis perlombaan, juri rapat, dan rapatnya lama sekali, tidak ada transparansi,” katanya.
    Nasir menyatakan kekecewaanya terhadap panitia dan penjurian. Baginya, selama perlombaan tersebut tidak jelas tata cara penjuriannya sebaiknya dihentikan dari PON.
    “Anak-anak Aceh telah berjuang begitu lama, menampilkan sebuah persembahan musikalitas yang luas biasa serta kisah yang mampu menggugah hati penonton, tapi ciderai seperti ini,” katanya.
    Tidak hanya Aceh, pelatih tim DKI Jakarta juga mengambil sikap yang sama untuk melakukan protes terkait tidak transprannya penilaian dewan juri pada final LUG. Pihaknya meminta agar rekaman selama perlombaan dibuka untuk melihat fakta sebenarnya.
    Sementara itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah drumband di PON, ada dua pemenang dalam satu medali. Aceh dan Jawa Barat harus berbagi perak pada final LUG yang merupakan mata lomba terakhir cabang drumband PON XIX.

        Menurut Ketua Panitia Pelaksana SUB PB PON XIX/Jabar Cabang Drumband, Gatut Sutanta, dimungkinkan terjadi dua pemenang, melihat perolehan nilai kedua pemenang yang hampir sama.
    “Ini bukan hal yang jarang terjadi, pada Porda Bekasi, drumband juga ada dua juara yang sama. Nilai tidak bisa direkayasa,” katanya.
    Final LUG menjadi penutup rangkaian perlombaan cabang Drumband di PON XIX/2016 Jabar. Jawa Barat tampil sebagai peraih emas terbanyak berikut daftar perolehan medali.
    Sebelum terjadi keributan, sikap patriotik ditunjukkan atlet drumband Aceh, ketika Aceh diumumkan sebagai peraih perak, seluruh atlet yang berjumlah 22 orang spontan langsung melakukan sujud syukur. Atlet Aceh juga terlihat tenang selama proses pengumuman, tidak terlibat saling ejek.
    Sementara atlet dari D.I Yogyakarta menunjukkan sikap protes dengan keluar dari gedung sebelum upacara penghormatan dilakukan kepada pemenang final Lomba Baris Berbaris (LBB).
    Perolehan medali cabang drumband “

    ProvinsiEmas Perak Perunggu
    1. Jawa Barat  5  3   –
    2. Banten  3  1   3
    3. Sumatera Utara  2  2   2
    4. Aceh  -     2   1
    5. D.I Yogyakarta  -   2   1
    6. DKI Jakarta  -  -   2
    7. Jambi  -  1   –
    8. Papua -  -   1
    Total  10  11   10.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com