• Kemenag Catat 8.000 Guru Belum Berstatus PNS

    0

       Cikarang, Bekasi, jurnalsumatra.com – Kementetian Agama (Kemenag) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mencatat 8000 guru madrasah belum berstatus pegawai negeri sipil (PNS).
    “Sedangkan guru yang sudah menyandang PNS hanya sekitar 650 orang saja,” kata Kepala Kemenag Kabupaten Bekasi, Sobirin di Kabupaten Bekasi, Kamis.
    Menurut dia berdasarkan dari pengamatan yang dilakukan guru madrasah di pemerintah daerah setempat belum mampu bersaing dengan sekolah negeri.
    Dikarenakan dari 170 sekolah Madrasah yang kurang diminati oleh sebagian siswa maupun orang tuanya, hanya satu yang berstatus sekolah negeri yaitu Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Bekasi.
    Begitu juga dengan Tsanawiyah, dari 170 sekolah setingkat SMP ini hanya ada empat yang berstatus negeri. Sedangkan Madrasah Aliyah hanya ada empat yang berstatus negeri dari total 38 sekolah.
    Ia menambahkan jumlah sekolah ini terus mengalami pengurangan tiap tahunnya sebesar 20 sekolahan. Dikarenakan masyarakat yang tidak berminat menyekolahkan anaknya di madrasah.
    Selain itu masyarakat memandang nasib anaknya kedepan dengan mnengutamakan sekolah yang dapat menyalurkan kedunia kerja.
    Memang tidak dapat dipungkiri, dengan minimnya lapangan pekerjaan dan makin besar pengangguran, orang tua siswa akan lebih memilih sekolah yang lebih kreatifitas dalam membuka peluang usaha dan dunia kerja.

        Lanjut Sobirin menjelaskan untuk bisa bersaing dengan pendidikan formal yang berorientasi pada dunia kerja, madrasah harus mengembangkan pelajaran Mulok (Muatan Lokal), dengan cara menambah waktu pembelajaran.
    “Madrasah jangan hanya mengacu pada waktu yang sudah ditetapkan di kurikulum,” katanya.
    Bila Madrasah ingin berkembang maka harus berorintasi pada pengembangan kreatifitas dunia kerja, misalnya di sekitar daerah pemerintahan adalah kawasan industri, maka seharusnya melakukan kerjasama dibidang pembaharuan tenaga kerja.
    Dikarenakan daripada pekerja didatangkan dari berbagai kota di Indonesia maupun luar negeri, lebih baik menambah satu tenaga ahli sebagai guru guna dapat bersaing dengan sekolah negeri yang berorientasi bisa langsung mendapatkan lapangan pekerjaan.
    Banyaknya sekolah modern dan terpadu konsep awalnya merupakan pondok pesantren dan madrasah. Hanya saja ada perubahan dengan memakai label yang lebih keren seperti menggunakan istilah boarding school dan international school.
    Oleh karena itu, perlu ada pembenahan di lingkungan pesantren maupun sekolah madrasah supaya memiliki daya saing dan lebih modern.
    Pada umumnya madrasah itu model pembelajaran yang paling ideal untuk membangun kualitas bangsa. Tinggal bisa tidak madrasah ini memiliki pola sehingga bisa menjawab tantangan masyarakat, bisa menjawab kebutuhan dunia kerja.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com