• Kabel PLN Tanpa Tiang, Warga Ngeluh

    0

    unnamed (11)KAYUAGUNG, SUMSEL. Jurnalsumatra.com – Kondisi aliran listrik yang ada di Desa Serigeni Kecamatan Kota Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kurang begitu diperhatikan keselamatan masyarakat. Setelah sebelumnya masyarakat mengadu karena bayaran pemakaian listrik terlalu membengkak. Kali ini masalah kabal listrik yang dibiarkan terjuntai ke lahan pohon tanpa ada tiang penyangga, Minggu (4/9/2016).

    Kabel sepanjang 300 meter itu, di ambil aliran listrik dari gedung sekolah dasar SD Negeri 1 Serigeni menuju pemukaman penduduk. Kabel tadi, melalui di atas lahan warga setinggi 1 meter dari tanah, bahkan kabel tadi berulang kali terbakar serta kabel sambungan yang bisa membuat celaka anak SD yang bermain.

    Seperti halnya di katakan, salah satu guru Zakaria, memang kabel yang menguntai di areal kebun warga itu sangat membahayakan. Karena, di lingkungan sekolah juga tidak punya pakar dan besar kemungkinan anak bisa bermain di kebun itu dan, kabel tanpa tiang sangat membahayakan anaka-anak.

    “Ya benar, kabel ini sudah lama dibiarkan begitu saja, sebenarnya pihak sekolah kwatir dengan adanya kabel yang menguntai. Memang, anak-anak jarang masuk ke hutan itu. Dan sekarang hutan itu sudah menjadi kebun dan bersih bisa saja anak-anak bermain disana,” kata Zakaria seraya menyebutkan kabel hanya di letakan di pepohonan dan kayu yang mudah lapuk.

    Pemilik kebun Palo (40) mengatakan, pihakny sudah berulang kali menyampaikan ke pihak PLN, namun hingga sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” ujar Palo yang berucap kalau terjadi kebakaran atau aliran listrik membahayakan keluaganya yang ada di kebun siapa yang bertanggungjawab,” tegas Palo seraya menunjukan kabel yang menguntai tanpa tiang.

    “Kabel terjuntai itu sudah lama, tetapi hingga sekarang belum ada perbaikan dari pihak terkait,” ujar Palo yang juga mengkritik kurangnya kontrol dan pengawasan dari pihak PLN sendiri mengenai pemasangan kabel baru dan juga penghitungan pemakai daya meteran yang kera[p kali meledak pembayarannya.

    “Pembayaran listrik di rumah keluarga saya tidak wajar dengan pemakaiannya,” ucap Palo yang panjang lebar, rumah keluarganya itu bukan tempat usaha atau bisnis lainnya. Melainkan hanya rumah biasa dan diakui Palo memang rumah itu besar, tapi perabotan listrik boleh dikatakan tidak ada. “Kalau mengenai lampu biasa saja, semua rumah ada lampu dan pemakaian lainnya,” tutur Palo yang menyebutkan rumah keluarganya di Kelurahan Kota Raya Kecamatan Kayuagung yang setahun ini satu bulan mengeluarkan uang Rp 800 ribu sampai Rp 11,5 juta per bulan.

    Palo mengharapkan, kepada dinas terkait untuk benar-benar memperhatikan kabel terjuntai supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti kabakaran. “Saya harapkan dinas terkait PLN untuk memperbaiki kabel terjuntai, supaya tidak makan korban,” tutur Palo yang meminta juga pihak pecatat meteran jangan mencatat pemakaian nembak di atas kuda yang mengakibatkan masyarakat sudah.

    Terpisah, pihak PLN Cabang Kayuagung hingga ditulis berita ini, belum dapat dikonfirmasi. (RICO)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com