• Gubernur NTT: Tindak Tegas Pengebom Ikan

    0

        Kupang, jurnalsumatra.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya mendesak TNI-Polri menangkap dan menindak tegas para pelaku pemboman ikan di provinsi berbasis kepulauan itu.
    “Saya tegaskan praktik penangkapan ikan dengan pemboman itu dilarang. Oleh karena itu saya minta pihak keamanan di NTT baik polisi maupun TNI bersama-sama menangkap dan mengejar para pelaku,” kata Frans Lebu Raya kepada Antara di Kupang, Senin.
    Hal itu disampaikannya menanggapi isu maraknya pemboman ikan yang terjadi di wilayah perairan NTT yang bahkan telah sampai ke Taman Nasional Perairan Laut Sawu.
    Gubernur Frans mengatakan dalam setiap kali pertemuan baik dengan seluruh instansi pemerintahan dan dengan masyarakat, dirinya selalu mengingatkan agar pengeboman ikan itu dihentikan. Namun hingga kini pengeboman ikan itu seperti sudah menjadi tradisi buruk yang tidak bisa ditinggalkan.
    “Saya minta masyarakat jangan sampai membeli ikan dari hasil pengeboman, karena itu justru nantinya akan mengakibatkan semakin banyaknya kasus pengeboman di laut,” tuturnya.
    NTT sendiri, lanjutnya, dikenal sebagai daerah yang memiliki laut yang sangat luas dan potensi kelautan yang tidak bisa ditandingi oleh daerah lain. Oleh karena itu untuk menjaga itu, masyarakat diminta untuk membantu menjaga hal tersebut.

        Hukum adat yang diberlakukan oleh masyarakat adat Rote Ndao, menurutnya, merupakan bukti bahwa masayarakat pesisir juga mempunyai peranan penting dalam menjaga laut.
    “Kasihan terumbu karang kita rusak akibat pengeboman ikan, akhirnya ikan-ikan yang terkadang banyak di pesisir pantai harus pindah dan masuk ke daerah yang lebih dalam,” tambahnya.
    Secara terpisah Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) VII Kupang Brigjen TNI (Mar) Siswoyo Hari Santoso mengatakan TNI AL sendiri selalu menjaga agar kawasan laut di NTT selalu aman dan tidak diganggu dengan aksi pengeboman ikan yang justru merusak terumbu karang yang menjadi tempat tinggal dari ikan dan ekosistem laut lainnya.
    “Lantamal VII sendiri saat ini menjadi bagian dari tiem respon cepat pengeboman ikan, dan saya baru dapat informasi kemarin kalau pihaknya telah berhasil menangkap pelaku pengeboman ikan di Sumba,” tuturnya.
    Keberhasilan TNI AL itu lanjutnya berkat dari kerja sama yang baik dengan  berbagai instansi pemerintahan yang memang konsentarsinya menjaga laut.
    Sementara itu, Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKPN) Kupang Ikram Malan Sangadji mengatakan, pengeboman ikan memang marak  terjadi di NTT dan lokasi pengeboman sering terjadi di perairan Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Manggarai Barat, Ende, Sikka, Flores Timur dan Lembata.
    Untuk mengantisipasi hal itu, pada Juni 2016 BKPN membentuk tim Quick Response Destructive Fishing Laut Sawu. Tim tersebut telah bekerja sama dengan polres, kepolisian perairan, Satuan Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan, hingga TNI AL termasuk juga sejumlah lembaga keagamaan.
    “Kami berharap agar ini bisa membantu mengurangi aksi pengeboman ikan yang terjadi di wilayah NTT ini, mengingat terkadang masuk samapai ke wilayah TNP Laut Sawu,” ujarnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com