• Di Sumsel, Pemeliharaan Infrastruktur Tidak Optimal

    0

    ishak-mekkiPalembang.jurnalsumatra.com – Pemeliharaan sarana, prasarana, dan infrastruktur pengairan dinilai belum optimal untuk menopang keberlangsungan kegiatan pertanian di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Selatan. Pemerintah dituntut saling bekerja sama untuk ketahanan pangan, energi, dan air.

    Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Imam Santoso mengatakan, belum optimalnya pemeliharaan sumber daya air karena sarana, fasilitas, dan personil pemeliharaannya pun masih kurang. Keterbatasan anggaran pemeliharaan dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota pun menjadi hambatan tersendiri dalam kegiatan pemeliharaan.

    “Padahal pencapaian program ketahanan pangan erat kaitannya dengan ketersediaan air ini,” katanya saat Konsultasi Regional Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP PSDA) di Griya Agung, rabu(28/9) .

    Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan pemeliharaan sumber daya air butuh kerjasama baik antara pemerintah pusat dengan daerah untuk selalu menjaga kondisi infrastruktur pengairan yang mendukung kegiatan pertanian.

    Dirinya berujar, petugas OP PSDA pun harus ditingkatkan kualitasnya supaya mereka yang tugasnya langsung menyentuh infrastruktur dan masyarakat, dapat memberikan pemahaman langsung terkait pentingnya pemeliharaan sumber daya air. “Tanpa ada kegiatan OP bisa merusak infrastruktur yang ada karena tidak ada pemeliharaan,” ujarnya.

    Kegiatan OP PSDA dilaksanakan dalam rangka memberikan masukan kepada pemerintah dalam pelaksanaan OP PSDA, kelembagaan dan sumber daya manusia pengelola OP untuk mendukung ketahanan air, ketahanan pangan dan ketahanan energi.

    Juga bertujuan membangun komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta instansi lainnya untuk merumuskan langkah-langkah strategis sebagai upaya mendukung terwujudnya pengelolaan SDA yang berdaya guna secara berkelanjutan.

    Pihaknya pun tengah melakukan upaya percepatan pembangunan Waduk Tigadihaji, Kabupaten OKU Selatan. Rencananya di waduk tersebut pun akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 64 Megawatt.

    “Dalam rentang 2015-2019, kami punya tugas berat untuk membangun satu juta hektar irigasi baru, rehabilitasi sistem irigasi seluas tiga juta hektar, dan membangun 65 bendungan baru. Salah satunya Tigadihaji ini,” jelasnya.

    Apabila saat ini Sumsel irigasi di Sumsel dalam mengairi 211.000 hektar lahan pertanian, maka setelah pembangunan waduk ini, diperkirakan lahan yang bisa dialiri menjadi 934.000 hektar dengan kapasitas tampungan air 200 juta meter kubik serta penyediaan air baku satu meter kubik per detik.

    Dirinya mengungkapkan, saat ini lahan pertanian rata-rata mengalami kekurangan air sebanyak 20 persen saat musim kemarau, dan kelebihan ketersediaan air 80 persen saat musim kemarau. Kondisi yang tidak seimbang ini terjadi di seluruh Indonesia, bukan hanya Sumsel.

    Ketidakseimbangan ini, lanjut Imam, salah satunya akibat degradasi tanah dan daerah resapan air yang tidak yang menyebabkan kekeringan dan banjir. Dirinya tidak ingin daerah lain terjadi bencana seperti di Kabupaten Garut, Jawa Barat yang dilanda banjir akibat degradasi tanah di daerah hulu Sungai Cimanuk.

    “Kami berharap hulu Sungai Musi di Sumsel terjaga, jangan sampai seperti Sungai Cimanuk yang mengakibatkan bencana parah,” jelasnya.

    Pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat harus bekerja sama untuk upaya konservasi di daerah serapan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan air bersih di masa depan dan mencegah bencana.

    Sementara itu, Wakil Gubernur Sumsel H Ishak Mekki mengatakan, Sumsel fokus dalam pengembangan sumber daya air karena kebutuhan pokok penduduk rumah tangga dan industri. Pemprov pun terus meningkatkan upaya bagaimana sumber daya air dapat berdampak kepada penopang ketahanan pangan dan energi.

    “Kita sudah melaksanakan berbagai program irigasi yang sudah berjalan dan terus ditingkatkan untuk pembangunan baru dan pemeliharaan, baik irigasi umum maupun rawa,” kata Ishak

    Pada tahun lalu. Produksi padi sudah cukup baik dengan produksi 4,2 juta ton gabah kering giling (GKG). Artinya, Sumsel menjadi salah satu penghasil gabang kering giling (GKG) terbesar dengan menyumbang 1,8 juta ton kebutuhan beras nasional.

    “Sumsel memiliki potensi lahan rawa yang besar yaitu 639.132 hektar yang dapat menambah produktifitas pangan. Capaian ini akan terus ditingkatkan. Maka dari itu pemprov terus mengelola dan mengembangkan infrastruktur SDA yang ada,” tambahnya.

    Dirinya berharap, bagaimana untuk memacu infrastruktur bidang irigasi agar 2016 ini dapat menyumbang kebutuhan beras nasional hingga dua juta ton dengan meningkatkan pembanguann sumber daya air, memelihara irigasi, dan normalisasi kanal.(Madon)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com